Harapan di Penjara

Posted: | oleh Ridwan Hidayat | Label: 0 komentar
[Review Film The Shawshank Redemtion]

Jika sudah takdir, sulit untuk menolaknya. Andy Dufresne harus menerima takdir buruk itu. Vonis penjara seumur hidup harus dialaminya setelah dituduh melakukan pembunuhan berencana kepada istri dan pria selingkuhan istrinya. Pertengkaran dengan sang istri membuat emosinya labil lalu berniat ingin membunuh istrinya yang sedang bersama pasangan selingkuhan. Namun, meski niat itu diurungkannya, tetap saja takdir bercerita lain. Sang istri dan pasangan selingkuhannya mati terbunuh oleh tangan yang tidak diketahui siapa pembunuhnya. Meski begitu, seorang bankir yang karirnya sedang cemerlang ini tak mampu melawan pengadilan yang mengharuskannya mendekam di Penjara Shawshank.

Bulan-bulan pertama di penjara adalah kehidupan tersulit bagi Andy Dufresne. Seolah, ia tidak mendapatkan kehidupan yang adil. Ia harus mendapatkan perlakuan yang buruk dan gangguan-gangguan dari tahanan yang lain. Meski begitu, ia mencoba membangun sebuah harapan. Harapan untuk bisa bebas dari penjara.

Red, menjadi teman pertamanya setelah hari-hari pertama Andy memilih menyendiri. Ia berteman dengan Red karena kemampuannya yang bisa menyelundupkan barang-barang ilegal dari luar penjara. Di situlah Andy meminta tolong Red untuk mendapatkan martil kecil. Sebuah benda yang akan diketahui kegunaannya di akhir cerita. Andy dan Red akhirnya menjadi kawan baik.

Gayanya yang tenang dan menerima kondisi yang harus dialaminya membuat Andy mencoba bertahan. Latar belakang sebagai bankir dan konsultan keuangan ia manfaatkan untuk lebih dekat ke sipir penjara. Ia berhasil memanfaatkan kemampuannya tersebut untuk menjadi konsultan keuangan para sipir, seperti mengurusi pajak, asuransi dan perencanaan pensiun. Para sipir pun merasakan manfaat dari Andy. Bahkan kepala penjara, Warden Norton, memanfaatkan jasa Andy untuk mengatur keuangannya dan keuangan penjara. Dari keahliannya tersebut, ia mendapat perlakukan istimewa, bahkan perlindungan.  

Tidak hanya soal jasa konsultan keuangan, ia pun mencoba membangun perpustakaan penjara yang selama ini tidak terurus. Kepala penjara pun menerima niat Andy untuk mengirim surat ke pemerintah Negara bagian agar mendapat bantuan dana dan buku untuk pengembangan perpusatakaan Penjara Shawshank. Hampir tiap minggu ia mengirim surat permohonann bantuan, namun baru mendapat jawaban dan menerima sumbangan buku setelah 6 tahun kemudian. Disitula akhirnya, Penjara Swahsank menjadi penjara yang memiiki perpustakaan terbaik di Amerika Serikat.

Lagi, tidak hanya soal jasa konsultan keuangan dan perpustakaan, Andy juga ikut membantu memperbaiki pendidikan para tahanan. Ia berusaha mendidik para tahanan yang belum mendapatkan ijazah SMA. Ia melakukan itu untuk membangun harapan dan masa depan para tahanan. Agar ketika bebas kelak, ijazah yang mereka dapatkan dapat berguna di kehidupannya setelah bebas. Usaha Andy inilah yang membuat sang Kepala Penjara mendapat penghargaan dari masyarakat karena telah membuat Penjara Shawsank menjadi penjara yang memperhatikan kehidupan sosial para tahanan. 

Cerita Tokoh Andy yang ditulis Stephen King inilah menjadi kisah yang menarik di Film drama yang berjudul The Shawsank Redemption.  Film yang disutradarai Frank Darabont adalah film lawas yang diproduksi pada tahun 1994. Meski sudah cukup lama, film ini masih masuk urutan pertama di jajaran top 250 film terbaik versi IMDB. Dengan cerita drama yang sederhana, film yang bercerita di setting tahun 1945 – 1960an ini mampu mengalahkan film-film sukses legendaries seperti The Good Father, Star Wars, Lord of the Ring, dan The Dark Night. Prestasi tersebut memang sebuah harga yang pantas karena banyaknya pelajaran moral dan kehidupan. Tokoh Andy Dufresne yang diperankan Tim Robbins mengajarkan kita pentingnya banyak berbuat amal kebaikan meski berada dalam kondisi tertindas dan tanpa harapan. 

Pelajaran lainnya yang menarik dari film ini adalah banyaknya para narapidana yang begitu bergantung hidupnya pada penjara ini. Seperti kata Red, “Penjara ini lucu. Pertama, kau membencinya. Lalu kau terbiasa dengan tempat ini. Dan seiring waktu, kau jadi bergantung pada tempat ini. Itulah yang namanya ‘bagian dari penjara’.”

Istilah ‘bagian dari penjara’ di film ini mencoba menceritakan bagaimana salah satu narapinada tertua bernama Brooks. Ia masuk tahun 1905 dengan terkena vonis seumur hidup. Brooks sehari-harinya mengurusi perpustakanan tua tersebut bersama Andy. Namun, setelah pengadilan negara bagian mengumumkan pembebasannya setelah 50 tahun hukuman, ia menjadi sedih. Di penjara ia merasa lebih dihargai sebagai orang yang paling pintar dari pada di luar sana. Ia berusaha mencari cara agar tetap dipenjara itu. Namun karena nasehat dari kawan-kawannya ia terima saja.

Brooks yang sudah tua terlihat mengalami kesulitan hidup di alam kebebasannya. Ia merasa kehiduapan di luar penjara justru penjara yang sesungguhnya. Ia kesulitan berinteraksi dengan lingkungan sosial. Hingga akhirnya ia harus mengakhiri hidup dengan bunuh diri.

Kasus Brooks ini membuat kawan-kawan Andy, termasuk Red, menyerah pada kata harapan yang sering didengungkan Andy. Mereka tidak memiliki keyakinan akan harapan masa depan. Harapan untuk bebas saja nampaknya tidak ada. Apalagi harapan bisa bertahan hidup di luar penjara. 

Meski begitu, Andy tetap memiliki keyakinan itu. Harapan akan kebebasan muncul setelah narapidana baru bernama Tommy masuk ke penjara itu. Tommy yang pernah berkali-kali masuk penjara bercerita kalau ia pernah satu sel dengan seseorang pembunuh yang menceritakan bahwa pembunuh tersebut pernah membunuh seorang pemain golf terkenal dengan pasangan selingkuhannya. Pasangan tersebut yang dimaksud adalah istrinya Andy. Dari kesaksian Tommy, Andy berusaha mengajukan banding ke Norton, sebagai kepala penjara. Namun justru Norton menolaknya dan memasukan Andy ke dalam ruang sel yang paling mengerikan selama sebulan lamanya. Tidak hanya itu, Norton pun melalui sipirnya membunuh Tommy untuk menghilangkan jejak kesaksian kasus Andy.

Alasan Norton mencoba tidak membantu kebebasan Andy adalah banyaknya rahasia Norton yang dipegang Andy. Keahlian dalam konsultasi keungan itulah yang menjadikan Andy dipercarya memegang catatan keuangan penjara. Juga, banyaknya usaha Andy meminta dana sosial untuk kegiatan sosial penjara menjadikan sumbangan tersebut berlimpah. Beberapa sumbangannya masuk ke kas Norton, sehingga ia semakin kaya. Inilah yang menjadi keahlian Andy dalam memanipulasi data keuangan. Norton dan beberapa sipir yang telah bergantung pada Andy, tak rela Andy keluar dari penjara itu.

Harapan Andy seolah pupus. Meski begitu, Andy tetap mencoba membangun harapan itu dengan menceritakan impiannya. Ia tak ingin terus-terusan menjadi narapidana yang bergantung hidupnya di ruang penindasan tanpa keadilan. Harapan untuk kebahagiaan harus terus dikejar. Tanpa peduli waktu bahkan tekanan.

Disitulah Red mencoba meyakinkan Andy agar tidak membuat harapan-harapan impian. Ia melihat Andy seperti memiliki angan-angan gila. Red pun berkata, “Harapan adalah hal yang berbahaya. Harapan bisa membuat seseorang menjadi gila.” Namun tetap, Andy dengan yakinnya, bahwa ia akan bebas dan mendapatkan impiannya. Ini hanya soal waktu.

Inilah film yang benar-benar menginspirasi dan layak ditonton. Tokoh Andy di-setting sang sutradara menjadi karakter yang tidak goyah akan keyakinanya. Keyakinan, harapan, dan impian membentuk kejutan diakhir cerita. Martil yang ia minta ke Red 20 tahun lalu di awal-awal ia masuk ke penjara itu membuahkan hasil akan harapan dan keyakinannya. Tak menyangka benda itu bisa membuat Andy kabur dari penjara setelah berjuang membuat lubang selama puluhan tahun. Inilah yang membuat Red takjub. Apa yang diyakini Andy berbuah nyata. Cerita itu berakhir dengan terbongkarnya semua kejahatan Norton. Andy pun mewujudkan impiannya.
Selengkapnya...

Gamang Meratapi Alokasi Kas Masjid

Posted: | oleh Ridwan Hidayat | 0 komentar
Setengah jam lamanya Iqbal mencoba memutuskan kebijakan soal dana kas masjid di rapat Forum Alumni Pengurus LDF Jamaah Al Muqtashidin (JAM) FE UII. Keraguan itu muncul ketika biaya kegiatan Outbond JAM FE UII, yang juga sebagai lembaga dakwah pengelola Masjid Al Muqtashidin,  mengalami defisit hingga Rp 2.150.000,00. Sebagai Ketua Lembaga Dakwah tersebut, ia ragu memutuskan penggunaan kas masjid yang bersumber dari infaq jama’ah untuk menutup biaya defisit pelaksanaan outbond tersebut.

Ada rasa gamang. Iqbal takut dana yang bersumber dari infaq jamaah masjid digunakan secara salah. Sebab, kegiatan pengembangan mutu SDM ini hanya diperuntunkan kepada para pengurusnya saja. Bukan kegiatan terbuka untuk para jamaah masjid yang terdiri dari mahasiswa, karyawan kampus dan masyarakat sekitar. Sehingga beranggapan tidak selayaknya menggunakan dana kas masjid dalam jumlah besar untuk keperluan kegiatan internal pengurus.

Apa yang dialami Iqbal membuat Marwan tersenyum bangga ketika mendengar permasalahan tersebut. Sebagai alumni kampus FE UII dan pernah terlibat di lembaga kemahasiswaan, Marwan cukup memuji Iqbal dan kawan-kawan. Ia melihat ada sebuah integritas dan nilai-nilai keyakinan untuk berhati-hati mengelola dana umat pada diri Aktivis JAM FE UII.

Apa yang dilakukan Iqbal berbeda dengan pengalaman Marwan ketika aktif di lembaga kemahasiswaan kampus FE UII. “Dulu waktu saya di LEM (Lembaga Eksekutif Mahasiswa), kami begitu bebas menggunakan dana mahasiswa. Ketika musyawarah kerja (baca: rapat internal), kami bisa menyewa vila semalam dengan fasilitas yang nyaman dan full makanan. Itu pun kami tidak dibebani dana pribadi. Semuanya ditanggung kas dana kemahasiswaan.” Ceritanya.

Dana kemahasiswaan yang terkumpul saat membayar SPP memang begitu banyak. Penggunaannya pun diatur oleh Bidang kemahasiswaan kampus dan lembaga kemahasiswaan seperti DPM dan LEM. “Saya tidak begitu mengerti persentase alokasi penggunaannya. Namun sikap kawan-kawan LEM dari pengalaman saya waktu itu sungguh berbeda dengan Iqbal dan kawan-kawannya. Masih ada pengorbanan dan kehati-hatian dalam penggunaan dana di kalangan kawan-kawan JAM. Padahal menurut saya, mereka bisa menggunakan kas masjid tersebut untuk mendanai kegiatan outbondnya. Itu tidak salah.” Jelas Marwan

Pembicaraan mengenai penggunaan Kas Masjid Al Muqtashidin untuk penggunaan kegiatan outbond ini menjadi perbincangan menarik di sebuah grup online messenger, whatsapp, komunitas JAM FE UII yang sebagian besar diisi oleh para alumninya. Edo Segara, salah satu alumni JAM FE UII berpendapat bahwa tidak menjadi masalah dana kas masjid digunakan untuk kegiatan internal pengurus, seperti pengembangan SDM dan keperluan operasional sehari-hari. Ia tidak mempermasalahkan sisa kekurangan dana kegiatan outbond tersebut ditutup dari kas masjid. Anggapan itu dilontarkan karena sering melihat dana kas infaq masjid yang mengendap tidak tergunakan untuk kegiatan dakwah dan syiar.

Irfan, alumni JAM lainnya yang juga mantan Ketua JAM FE UII periode 2005-2006 juga berpendapat di grup whatsapp tersebut. Penggunaan Kas Masjid untuk kegiatan internal pengelolannya sah-sah saja. Ia pernah mempertanyakan masalah ini ke Ust. Siswa Bowo dan Ust. Aris dari taruna Al Qur’an, bahwa hukum menggunakan kas infaq masjid untuk kegiatan internal pengelolanya boleh-boleh saja. Anggapan bahwa dana kas masjid hanya untuk kegiatan syiar external saja adalah  keliru. Namun bagi Irfan, perlu manajemen budgeting dalam pengelolaannya. Jangan semua kas masjid habis untuk mendanai kegiatan internal pengurusnya saja.

Masih dari diskusi whatsapp, Rury Febrianto, Alumni JAM yang juga saat ini aktif sebagai Vice Director BMT Bringharjo mencoba berpendapat secara fikih pengelolaan zakat. Bahwa, berdasarkan Fikih zakat Ustadz Didin Hafidhuddin, untuk zakat secara sah qothi, yaitu 1/8 bisa masuk untuk dana operasional pengumpul zakat. Untuk infaq dan sedekah, tidak ada ketentuan penggunaan operasional. Artinya, dari kas Infaq tersebut organisasi memiliki kebijakan yang bebas menentukan besar persentase alokasi dana, baik untuk kegiatan external dan operasional internal. “Kebijakan seperti ini bisa diterapkan pada organisasi masjid yang memang memiliki keterbatasan dana. Hanya saja harus diatur dalam AD/ART, agar konsisten dan tidak semena-mena menggunakan.” Tulisnya di Whatsapp.

Apa yang dijelaskan Rury Febrianto memperkuat pendapat Irfan, bahwa kas masjid perlu manajemen budgeting. Pendapat para alumni ini sedikit mencerahkan Iqbal dan para staf pengurusnya dalam memahami penggunaan kas masjid. Dalam kasus kegiatan outbond ini, ada hak kas masjid ikut menutupi anggaran dananya.

Di tempat lain, Uman Miftah Sajidin, alumni JAM yang pernah menjabat Ketua JAM periode 2010 – 2011 tak ketinggalan menanggapi. Ia kutip perkataan Pak Albari, salah satu dosen FE UII, yang mengatakan bahwa seharusnya tiap rapat JAM itu bisa ada konsumsi yang dananya dari kas masjid. Hal itu disarankan Pak Albari sebagai penyokong untuk kemajuan dakwah di FE UII. Namun, saran itu tidak diikuti Uman ketika menjabat. Ia dan staf pengurusnya masih mencoba berhati-hati demi kemaslahatan bersama.

Sama seperti pendapat ke tiga alumni di atas, dari kasus outbond ini bagi Uman perlu manajemen budgeting. Menurutnya, semua itu sudah di atur dalam buku petunjuk Pelaksana (Juklak) dan Petunjuk Teknis (Juknis) bedahara JAM FE UII. Ada kadar tersendiri untuk mendanai aktivitas internal kepengurusan. Semua itu tergantung dari kesepakatan PHBK dalam menentukan besarnya anggaran untuk keperluan kegiatan internal.

Dari pendapat Uman ini memberikan kejelasan bahwa Iqbal dan kawan-kawan memiliki keleluasaan untuk memutuskan bahwa dana defisit tersebut bisa ditutupi kas masjid. Namun tetap saja itu membuat Iqbal bingung. Sebab dari masa kepengurusan-kepengurusan sebelumnya, Uman bercerita, jarang menggunakan dana kas masjid untuk kegiatan internal pengurus. Sebagai contoh, ketika mengadakan mukhoyam kaderisasi, itu murni dari dana yang diperoleh usaha sendiri. Jualan donat adalah usaha yang Ia dan kawan-kawan kaderisasnya lakukan untuk mendapatan dana kegiatan tersebut.

“Ada tiga hal yang perlu diperhatikan pengurus soal kas masjid ini. Pertama, prinsip kehati-hatian. Kedua, perlu kita tanamkan mindset bahwa dana infaq dari Jama’ah juga untuk Jama’h dalam bentuk kegiatan pelayanan dan syi’ar. Ketiga, agar tidak manja. Pengurus perlu berusaha untuk mencari dana di luar infaq masjid. Jika bebas menggunakan kas masjid, bisa membuat pengurus manja.” Jelasnya alasan mengapa dirinya berusaha untuk membatasi penggunaan kas masjid.

Dari semua pendapat itu telah menjadi bahan pertimbangan untuk mengatasi kebimbangan Iqbal. Para alumni yang hadir di rapat Forum Alumni Pengurus bisa membantu memecahkan kebuntuannya. Defisit Rp 2.150.000 diusulkan dibagi dua saja, yaitu setengahnya ditutup kas masjid sebagai subsidi pendanaa k kegiatan outbond ini. Lalu setengahnya lagi sebagai hutang panitia pelaksana yang sementara ini ditutupi kas masjid.

“Kira-kira dana dari mana kita bisa membayar hutang itu?” Tanya Iqbal khawatir.

“Ya, kita coba cari dananya lagi. Mungkin dengan jualan kaos lagi. Atau semoga saja ada alumni yang bersedia membantu menutupinya.” Ucapnya ketua Keluarga Alumni (KALAM) JAM FE UII dengan optimis.
Selengkapnya...

Lagi Bosan Menulis

Posted: | oleh Ridwan Hidayat | 0 komentar
Kepada kawan-kawan pembaca setia ridwanhidayat.com, mohon maaf, untuk beberapa minggu ini sejak pertengahan Desember kemarin saya malas untuk update blog. Alias lagi bosan menulis :D. Begitu juga dengan facebook untuk sementara sedang non aktif. Pokoknya sedang malas, bosan, dan ingin jauh-jauh dulu dengan aktivitas menulis blog dan facebook. kecuali twitter, hehe.. silakan temukan saya di @RidwanHd

Semoga tahun 2013 ini adalah tahun yang menyenangkan. 

Salam :),

"We do not forget. We do not forgive. We are legion. Expect us."

Selengkapnya...

Belajar dari Mustaqim

Posted: | oleh Ridwan Hidayat | Label: , 0 komentar
Melihat seorang kawan mahasiswa yang rajin mencuci pakaiannya sendiri tanpa mau menggunakan layanan laundry adalah hal yang biasa. Tidak dengan kawan saya yang bermana Mustaqim. Cara ia mencuci pakaiannya sendiri tanpa mau menggunakan jasa laundry membuat suatu yang luar biasa di mata saya. Bagaimana tidak, ia adalah kawan, yang juga adik kampus, yang hanya menggunakan satu tangan saja di setiap aktivitasnya (baca: cacat). Hanya dengan tangan kirinya, ia gunakan untuk makan, mandi, menulis, mencuci, bersalaman, dan lainnya. Singkatnya, ia lebih suka mencuci pakaiannya sendiri dari pada menyerahkan ke jasa laundry.

Mustaqim menegur kita dari sikap kemanjaan. Cacat sejak kecil tidak membuatnya manja untuk terus tinggal dengan orang tuanya. Dengan satu tangannya, ia bukan anak yang malas. Apalagi suka mengeluh. Semua beban aktivitas kehidupan ia tampik tanpa keluhan. Hanya dengan satu tangan. Yah, hanya dengan satu tangan, ia tidak pernah membebankan orang lain. Dengan satu tangan, ia selesaikan semua tanggung jawab pribadinya, pekerjaan keorganisasiannya di kampus, dan tanggung jawabnya sebagai mahasiswa. Sekali lagi, semua itu dilakukan secara mandiri, tanpa membebani orang lain.

Lagi, Mustaqim menegur kita pada sebuah sikap perlawanannya atas kehadiran jasa Laundry. Hidup dengan satu tangan, ia tidak tergoda dengan rayuan gombalan promosi usaha Laundry yang menawarkan jasa kemalasan mahasiswa untuk mau mecuci bajunya sendiri. Ia tak mau mengeluarkan sepeser uang pun untuk memanjakan dirinya. Dengan satu tangan, ia angkat ember besar itu dengan air yang memberatkan. Dengan tenaga seadanya, ia kucek sendiri dengan genggaman jemarinya. Entah, bersih atau tidak, tidak peduli. Yang penting ia sudah bertanggung jawab pada dirinya.

Mau hemat, mas.” Hanya itu kata yang sering kali muncul setiap saya tanya alasannya. Konsisten ia katakan, “mau hemat, mas”. Tanpa ada alasan lain. Sederhana.

Lagi-lagi, Mustaqim menegur kita pada sebuah kesederhanaan hidup. Latar belakang dari keluarga berada bukan alasan dia untuk bermanja. Lahir dari orang tua yang bekerja di perusahaan bonafit di Kalimantan, dengan gaji yang tidak mungkin sedikit, tidak membuatnya ikut-ikutan terjebak dalam lingkaran generasi mahasiswa yang pragmatis, serba instan, dengan uang jajan yang melebihi kebutuhan. Didikan orang tuanya yang mengajarkan kedisiplinan, mengajarkan ketidakmanjaan, hidup berpindah dari satu pesantren ke pesantren lainnya, membekas dirinya untuk pantang menghinakan dirinya menjadi pemalas seperti kawan-kawannya yang normal.

Dan lagi Mustaqim, mahasiswa FE UII angkatan 2009 itu mungkin sadar bahwa jasa laundry bagian dari industri kapitalis yang hadir memenuhi tuntutan pasar, yaitu hadirnya pasar mahasiswa-mahasiswa sok sibuk juga pemalas. Kalau memang masih ada waktu dan kesempatan bisa mencuci sendiri, meski dengan satu tangan, buat apa harus mengeluarkan uang untuk dicucikan orang lain. Itulah mungkin yang menjadi anggapan pada dirinya agar tidak terjebak ke dalam segmen pasarnya usaha laundry. Daripada mengeluarkan uang untuk memanjakan diri, mungkin baginya lebih baik ditabung untuk masa depannya yang lebih bermanfaat.

Ah, Mustaqim. Lagi-lagi dan lagi kau membuat kami malu. Kau sudah membuktikan kalau kau bukan lelaki manja seperti kawan-kawanmu yang normal.
Selengkapnya...

Jalan Terjal Sang Pengabdi Ibu yang Akhirnya Divonis Korupsi Pajak

Posted: | oleh Ridwan Hidayat | Label: , 0 komentar
Gambar: obornews.com
Inilah jaman dimana orang baik bisa menjadi salah. Orang jahat tercitra baik. Jarak antara baik dan buruk semakin menipis. Mana yang salah dan mana yang benar sangat bias terlihat. Mungkin, itu juga yang terjadi pada Dhana Widyatmika (DW). Setelah sekian lama menjalani persidangan, pegawai Derektorat Jenderal Pajak yang didakwa menerima suap, korupsi, dan mencuci uang, akhirnya divonis 7 tahun oleh Majelis Hakim Pengadilan Pidana Korupsi Jakarta, Jumat kemarin (9/11/12). Sebuah vonis yang menimbulkan pertanyaan, benarkah ia berbuat demikian?

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak hanya saya tanyakan pada sosok DW saja. Berbagai kasus besar yang melibatkan pejabat (terutama Antasari Azhar) pun selalu betanya, benarkah mereka berbuat seperti yang dituduhkan? Apakah mereka hanya korban rekayasa, atau memang pelaku sebenarnya? Entahlah. Untuk DW sendiri, mengapa hati nurani ini merasa ia adalah korban. Melihatnya, teringat ia seperti Lincoln Burrows yang terjebak konspirasi politik dalam cerita film serial Prison Break.

Membaca harian kompas hari ini (10/11/12) yang menuliskan sisi manusiawi DW membuat begitu tertegun. Pernyataan tetangga dan kerabatnya sendiri, DW jauh dari sisi buruk seperti yang diberitakan media atas kasusnya. Kompas pun harus menulis sisi manusiawinya saat ia menangis ketika membaca pembelaannya. Ia menangis ketika isi pembelaan tersebut menyangkut kenangan terhadap ibunya yang sudah meninggal. Tangisan yang tak dilupakan kalau ia pernah bertahun-tahun merawat ibunya yang sakit. Kata tetangganya yang ditulis dikoran tersebut, DW sangat totalitas melayani dan merawat ibunya yang menderita gagal ginjal.

Kisah DW yang merawat ibunya dengan sepenuh hati pernah ramai diperbincangkan di dunia maya akhir Februari lalu. Kisah itu muncul ketika situs Fimadani.com mengangkat kembali artikel yang disalin dari Majalah Tarbawi edisi September 2007. Entah direncana atau tidak, 5 tahun sebelum DW terjerat kasus korupsi pajak, ia menarik perhatian seorang wartawati dari Majalah Tarbawi yang sedang meliput tentang penyakit gagal ginjal di sebuah rumah sakit di Jakarta. Sang Wartawati tertarik meliput DW karena hampir setiap hari pria muda tersebut hilir mudik mengantar ibunya cuci darah. Hasil wawancara dengan DW menjadi artikel menarik yang menggugah dan memilu hati dengan judul “Meski Dalam Kondisi Sakit, Berkah dari Ridho Ibu Tidak Berubah”.

Apa yang tertulis di artikel tersebut betul-betul menunjukkan DW adalah anak yang sangat berbakti. Sebagai seorang mahasiswa di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara ia lebih memprioritaskan hidupnya untuk merawat sang ibu ketimbang kuliah dan meniti karir masa depan.

“Kuliah tidak masuk, saya tidak peduli. Saya lebih baik drop out dari pada harus meninggalkan ibu saya. Itu yang saya yakini. Boleh dibilang saya tidak pernah belajar meski saat ujian. Bukan karena sombong, tapi memang tidak sempat. Saya sadar risikonya dan juga siap menanggungnya. Tidak pernah ada konflik batin ketika memutuskan itu. Prioritas saya untuk Ibu. Saya tidak pernah sedikit pun khawatir, bagaimana masa depan saya, bagaimana kalau tidak lulus atau drop out. Terserah deh, hidup saya mau dibawa kemana. Say aikut saja. Saya hanya berpikir bagaimana ibu bisa nyaman, bisa tertolong dari kondisi ini.” Ceritanya yang dikutip dari artikel tersebut.

Bahkan, DW tidak sungkan harus menadah kedua dengan beralaskan tisu untuk menampung kotoran ibunya yang sedang buang hajat di pembaringan ketika sakit keras. Ia tidak tega melihat ibunya menggunakan pispot karena menurutnya benda itu terlalu keras dan bisa menyakiti tulang ibunya.

Kisah yang diangkat Majalah Tarbawi ini sudah banyak beredar dikalangan netter. Banyak blogger dan kompasianaers yang menanggapi beliau. Karena artikel tersebut, banyak yang akhirnya lebih percaya pada DW dari pada dakwaan yang dituduhkannya. Mungkin juga saya salah satunya. (silakan bisa lihat artikelnya di sini: http://fimadani.com/dhana-widyatmika-lelaki-di-pintu-surga/)

Jika memang benar DW adalah seorang yang seperti itu, seperti tidak mungkin ia akan melakukan kejahatan terhadap Negara. Ia tertuduh melakukan korupsi pajak, menerima gratifikasi, dan mencuci uang dengan bukti rekeningnya yang gendut. Ia membantah hartanya dari kejahatan yang dituduhkan. Harta tersebut dari bisnisnya sejak masih kuliah dan warisan orang tua.

Dari artikel Kompas itu juga tertulis, sebenarnya DW pun sudah berbisnis sejak kecil. Bisnis sudah menjadi kebiasaannya hingga ia kerja di Direktorat Pajak. Ia tidak mau keluar hanya karena ibunya sangat bangga melihatnya menjadi pegawai PNS. Terlihat, ia bekerja menjadi pegawai karena mencari kebanggaan dari seorang ibu, bukan mencari kekayaan.

Korupsi telah menghancurkan segala sendi kehidupan Dhana, apalagi ketika ia diberi label “The Next Gayus”. Banyak pemberitaan bombastis dan fitnah, kata Dhana, yang tak berdasarkan fakta. Dhana kemudian merinci setidaknya ada delapan fitnah yang menimpa dirinya dan dipublikasi oleh berbagai media masa. Begitu yang ditulis Kompas.

Meski begitu, hakim Sudjatmiko yang terkenal dengan integritasnya sebagai hakim TIPIKOR, sudah memetuk palu vonis kepada DW yang terbukti bersalah. DW dan pengacaranya sudah menyiapkan banding atas vonis tersebut.

Sekali lagi, entahlah. Ini menjadi ruang misteri. Hanya DW dan Allah yang mengetahui kebenarannya. Kalaupun ia salah, hukuman vonis tersebut bisa mengurangi dosa-dosa dunia. Kalaupun ia tidak bersalah, ujian kesabaran itulah yang mungkin menjadi pilihan Allah untuk diberikan jalannya ke surga. Wallahualam.
Selengkapnya...

Kenapa Perempuan Bandung (Sunda) Cantik-cantik?

Posted: | oleh Ridwan Hidayat | Label: , 4 komentar
Nah, pertanyaan ini tiba-tiba saja muncul dibenak saya ketika menjelang pulang dari Bandung. Sudah menjadi rahasianya para lelaki kalau Bandung adalah surganya para bidadari. Saat tulisan ini ditulis, sudah ada tiga kali saya ke Ibu Kota Jawa Barat. Ketika berada di kota ini, pemandangan perempuan yang berwajah putih, mulus, menjadi hal yang sering didapati dibanding berkunjung ke kota lainnya (terutama di Pulau Jawa). Hampir semua teman laki-laki selalu berkomentar yang sama. Bahkan, sebagian kawan-kawan sampai mengatakan Bandung adalah tempat liburan untuk mencuci mata.

Bukan hanya soal kecantikan, karakter yang ramah dengan tutur bahasa yang lembut menambah godaan itu. Sebagai seorang pria yang normal, godaan syahwat pasti muncul. Apalagi belum punya istri. Salah satu yang menyelamatkan adalah mampu menahan diri (seperti jaga pandangan atau mungkin kalimat pujian-pujian kepada Allah).

Godaan itu akan Anda dapatkan ketika berada di tempat-tempat keramaian. Apalagi di masjid-masjid kampus besar di kota itu. Siap-siap saja berucap, Masy Allah… :D

Memang cantik itu relatif. Meski relatif, tidak dipungkiri juga ada penilaian yang harus diakui sebagai yang obyektif. Dalam kasus Bandung ini, terlihat dari obrolan dan tutur bahasa kawan-kawan saya kalau kita sepakat Bandung memang banyak perempuan berwajah cantik. Meski  juga, perempuan  yang berwajah standar pun juga banyak. Tapi, kita akan lebih banyak menemukan perempuan berwajah cantik itu dari pada di kota-kota lainnya. Nah inilah yang menjadi pertanyaan, mengapa bisa begitu? Mengapa perempuan-perempuan berwajah yang diincar para pria (dengan syahwat) terkumpul di daerah itu?

Berbagai jawaban bermunculan, baik sekedar bercanda, mitos, sampai ilmiah. Mencari jawaban dalam kasus ini menjadi kegiatan yang menarik. Sayangnya, saya tidak bisa mencari jawaban ke orang sundanya langsung. Hanya mendapat dari kawan juga perantauan di kota Bandung.

Kalau bicara mitos ada yang bilang tempat wisata kawah putih di dekat Bandung sebagai tempat bocornya surga, sehingga para bidadari itu turun dari kawah tersebut. Secara spiritual, Jawa Barat adalah daerah yang dianugerahi Tuhan. Tuhan ketika menciptakan tanah Pahriyangan sambil tersenyum. Anugerah tersebut memberikan pesona kecantikan wanita yang mendiaminya.

Ada juga yang mengatakan dari kebiasan makanan. Katanya sih, orang Sunda hobi dengan makan lalapan. Lalapan yang dikonsumsi seperti daun singkong, terong,tomat, kol dsb. Dan katanya, makanan tersebut bikin kulit jadi halus dan bersih. (kalau ada orang Sunda yang baca, benarkah??)

Kalau saya sendiri berhipotesis apakah bisa dari konsumsi Air yang digunakan? Sebab, di sana merupakan daerah pegunungan dengan air-air murni yang mengalir dari gunung sehingga membuat wajah lebih bersih saat diguankan untuk mandi. Hipotesis air ini lahir atas dugaan saya secara empiris. Saya juga melihat dari kota-kota yang berada di sekitar pegunungan seperti kota Malang, juga banyak terlihat warga asli yang berkulit putih bersih. Soal air ini saya juga ada pengalaman. Saat masih SMP wajah saya cukup hitam karena sering bermain di luar rumah. Ketika ada kesempatan liburan sekolah, saya diajak berlibur ke kota Malang tempat pakde dan bude saya tinggal. Selama dua minggu lamanya saya tinggal di sana dan mandi di sana. Ketika liburan selesai dan kembali pulang, banyak yang bilang wajah saya kok mulai berkurang hitamnya. Ada yang bilang mulai terlihat bersih, dan terlihat nampak lebih putih dari biasanya. Saat itu saya berpikir, apa mungkin karena hidup dua minggu di kota malang yang bersuhu dingin dengan air tanah dari pegunungan yang masih murni membuat kulit wajah saya berubah jadi bersih?

Soal air gunung yang membuat wajah terlihat bersih agak sulit saya mencari bantahannya. Pernah juga ketika saya berjalan-jalan ke kawah gunung Takuban Perahu (8 tahun lalu), seorang pemandu dengan tampang sholeh, menyarankan agar bisa cuci muka di mata air yang ada area kawah. Katanya, air itu sangat bagus untuk membersihkan wajah. Dari situ saya menyimpulkan jika air gunung bisa membersihkan wajah dari noda-noda akibat terbakar matahari. Nah, yang menjadi membingungkan adalah, kenapa tidak semua perempuan yang hidup di daerah pegunungan berwajah cantik? Hipotesis ini bisa jadi gagal kalau ingin diterapkan.

Kalau dari analisis ilmiah, seorang kawan  bercerita bahwa wilayah Jawa Barat juga banyak masyarakatnya yang bercampur dengan bangsa barat ketika masa penjajahan dahulu. Karena percampuran orang-orang berkulit putih dengan warga pribumi lahirlah turunan dengan gen yang putih. Wajah putih kebule-bulean pun banyak ditemukan di kota itu. Ada juga yang berpendapat ciri khas wajah suku sunda sudah lama terbentuk sejak berabad-abad lamanya karena percampuran bangsa-bangsa yeng mendiami tanah sangkuriang itu.

Mungkin Anda yang baca juga punya analisisnya?

Tapi sayangnya, kenapa image cantik hanya tertuju dengan orang Sunda, padahal Suku banjar (Saya turunan Banjar) juga banyak yang cantik-canti. Lihat saja adek-adek saya, sepupu, keponakan, tetangga, dll, gak kalah dengan mereka.

Ah sudah lah. Apapun analisisnya, yang penting kita mesti bersyukur apa yang telah diciptakan Allah. Tidak semua yang cantik itu menarik dan menyenangkan. Dan, saya pun memang tidak punya rencana mendapat pendamping hidup dari orang Sunda, kalau pun dapat, itu hanya urusan Allah..


* ditulis di atas Kereta Api Lodaya Malam, Bandung – Jogja, 14 Oktober 2012 (mengisi kebosanan)
Selengkapnya...

Hati-hati Kalau Bicara

Posted: | oleh Ridwan Hidayat | Label: , 0 komentar
Banyak hal kekurangan yang meski diperbaiki dalam berkehidupan. Kalau tulisan sebelumnya saya berkaca konsisten soal waktu, maka pada tulisan ini ingin berbicara soal bahaya bicara sembarangan. Mengapa topik ini harus diangkat? Sebab, saya termasuk orang yang mudah tersinggung jika suka dikatakan yang tidak benar oleh orang lain.

Salah satu contoh sifat sembaranga berbicaara seperti apa yang pernah saya alami. Pernah pada saat masih aktif di dakwah kampus, saya diminta bantuan oleh seorang teman yang kala itu menjabat departeman syiar disebuah LDK UII. Ia meminta bantuan saya untuk mencarikan ide kegiatan untuk Ramadhan di kampus. Karena melihat beliau yang kesulitan mencari gambaran event yang cocok, dengan senang hati saya membantu mencarikan ide kegiatannya, bahkan saya siap membantu sampai hal yang teknis, meskipun saat itu saya tidak memiliki amanah di LDK.

Sayangnya ide-ide acara yang saya usulkan harus terbentur dengan keterbatasan dana ditambah tim EO yang seadanya. Karena keterbatasan itulah kami harus bisa mengkonsep sebuah acara sederhana yang bisa mengundang peserta yang banyak dan tepat sasaran. Dari berbagai ide acara yang ada salah satunya adalah diskusi pra nikah.

Diskusi tersebut sengaja dibuat mengingat kondisi para aktivis dakwah kampusnya yang banyak mengalami sindrom ‘katanya’ merah jambu. Acara dikonsep dan diberi judul kalau tidak salah “Ketika Mencintai Tak Bisa Menikahi”. Alhamdulillah beberapa kawan memberikan acungan jempol dengan tema tersebut. Sengaja mengangkat judul itu agar bisa menarik peserta baik dikalangan aktivis dakwah sendiri maupun mahasiswa awam.

Jelas dari sejak awal, ide yang saya usulkan murni dari rasa prihatin atas kondisi para aktivis dakwah, yang mencintai lawan jenis, namun tidak berani untuk menikah. Secara diam-diam mereka harus menyalurkannya dengan sering ber-SMSan, atau sampai kepada hubungan ‘gelap’ atau diisitilahkan pacaran. Nah, acara inilah dimaksud sebagai solusi buat mereka yang terjangkit perasaan cinta yang manusiawi namun belum berani untuk menikah. Sayangnya, pembicara yang diundang justru tidak berbicara soal jawaban yang ingin ditanya namun lebih kepada proses-proses (baku) untuk menikah. Tujuan acara yang diigingkan jadi tidak masuk.

Niat baik membuat acara tersebut membuat saya menjadi korban pencitraan opini (yang saya anggap) negatif. Karena acara tersebut, saya menjadi bahan gosipan di kalangan teman-teman kalau saya kebelat nikah, atau sedang pencarian, dsb. Padahal, demi Allah saat itu tidak kepikiran untuk memikirkan soal nikah. Sekali lagi, hanya murni ingin menyampaikan kegelisahan dari penyakit para aktivis dakwah dalam wujud acara, sekaligus syiar dakwah bagi mahasiswa yang belum paham tentang ekspresi cinta itu sendiri.

Saya sendiri memang tidak mempermasalahkan omongan-omongan itu. Masalah ini bukan sesuatu yang susbtansial. Saya hanya mendiamkan dan tersenyum kepada orang-orang yang bicara sembarangan itu. Hanya saja yang saya tidak suka adalah ketika ada lontara kalau saya hanya omong doang, maksudnya saya dikatakan omongannya nikah melulu tapi gak nikah-nikah. Nah, kalau sudah bicara begini harus saya hadapi, kalau perlu saya hajar mukanya.

Kebiasaan-kebiasaan menciptakan suatu opini dari kejadian yang berda maksud sudah menjadi tren sehari-hari. Kasus seperti ini akan sering terlihat di media-media kita. Suatu kejadian yang kita lihat akan dibentuk opini yang berbeda dari maksud aslinya oleh media dengan berbagai tujuannya tanpa ada konfirmasi terlebih dahulu. Kausus yang saya ceritakan di atas hanyalah sebagian masalah gossip yang menimpa. Sebenarnya masih banyak gosip-gosip yang bisa dibilang lebih parah dari cerita di atas. Tapi tidak saya ceritakan karena sudah masuk masalah yang substansial. Contoh di atas hanya sebagai gambaran sederhana bagaimana saya harus menerima anggapan yang berbeda dari tujuan yang ingin dimaksud.

Karena kejadian itulah, saya pun juga harus mencoba membenah diri agar tidak melakukan kebiasaan-kebiasan seperti teman-teman saya itu. Saya haru belajar agar tidak sembarangan membentuk persepsi yang tidak sesuai dengan kenyataan sebenarnya. Apalagi harus menjadi bahan gosipan. Saya harus belajar, sebelum menyimpulkan perilaku seseorang, harus kita telaah dahulu berdasarkan kapasitas keilmuan atau jika perlu ditanyakan. Jika tidak bisa, diam lebih baik atau prasangka-prasangka itu hanya dipendam saja dari pada dibicarakan ke orang lain (sehingga jadi gossip)

Yah, segitu sajalah tulisan sederhana (mungkin juga gak mutu), semoga yang baca juga mau sadar agar tidak sembarangan berucap, menilai,  atau sampai memfitnah. Terimakasih kepada kita semua yang sudah mau memperbaiki diri.


* ditulis di atas Kereta Api Lodaya Malam, Bandung – Jogja, 14 Oktober 2012 (mengisi kebosanan)
Selengkapnya...

Konsisten Soal Waktu

Posted: | oleh Ridwan Hidayat | Label: 0 komentar
Bagi orang beriman, hidup merupakan aktivitas untuk menunggu waktu sholat. Sholat merupakan ibadah yang waktunya sudah terjadwal dan tidak mungkin telat pelaksanaannya. Menunggu waktu untuk sholat, jelas tidak akan ada yang namanya kekecewan. Berbeda dengan menunggu waktu untuk manusia. Seperti menunggu kawan datang ketika berjanji, atau menunggu rapat, acara, dsb adalah menunggu waktu yang sering memberikan kekecewaan. Kecewa karena yang ditunggu bukan soal waktu lagi melainkan menunggu sesosok manusia yang telah melewati waktu yang telah dijanjikan.

Contoh kedongkolan masalah waktu yang pernah dialami adalah ketika harus mengikuti kelompok diskusi kawan-kawan mahasiswa di tempat kuliah saya dulu. Dikesempatan kesibukan mencari penghasilan, beruntung saya masih memiliki waktu untuk mengikuti aktivits terebut. Saya jadwalkan saja Ahad sore sebagai waktu ideal dan cocok. Mereka menyangggupi. Namun sayang, setelah beberapa kali pertemuan  ada satu-dua orang yang ingin merubah jadwal karena perubahan waktu aktivitas mereka. Agar bisa ikut, mereka mengusulkan agar dipindah waktunya menjadi siang. Setelah mengecek jadwal dengan yang lainnya, mereka semua menyanggupi waktu berubah menjadi siang. Padahal waktu siang adalah waktu yang saya sendiri sudah memiliki jadwal. Terpaksa agar semua bisa terkumpul saya mengalah dan mengubah jadwal diskusi sore menjadi siang.

Ujian kesabaran untuk kesekian kalinya harus dialami. Beberapa anak yang menyatakan bisa hadir siang ternyata tidak bisa hadir dengan berbagai alasannya. Parahnya, untuk anak yang tidak bisa hadir sore terus minta diubah siang, baru bisa datang satu setengah jam dari jadwal yang dijanjikan. Atau datang setengah jam menjelang waktu Ashar. Lagi-lagi kedongkolan itu harus dirasakan. Kedongkolan karena harus hidup dengan orang-orang yang tidak pernah konsisten dengan janjinya. Mereka yang menyatakan (sangat jelas dan cukup eksplisit), dan mereka yang melanggar.

Itu masih mending. Pernah juga saya berjanji bertemu dengan seorang kawan. Ia mengajak bertemu untuk membicarakan sesuatu yang sepertinya sangat penting. Ini berurusan soal uang. Malam itu saya memiliki agenda untuk menyelesaikan sebuah website yang sedang digarap. Karena melihat keseriusannya, saya mengiyakan untuk bisa bertemu dan meminta dia yang menentukan waktu.  Waktu sudah disepakati, lalu sesuai jadwal saya sudah di tempat yang dijanjikan beberapa menit sebelum waktu yang ia minta. Untung saja tempat tersebut ada fasilitas wi fi, masih ada ruang untuk mencari aktivitas di kekosongan waktu menunggu. Terlambat 10 sampai 15 menit masih saya toleransi. Coba saya hubungi, jawabannya ia minta izin terlambat karena sedang makan malam bersama koleganya. Oke saya terima, coba menunggu kembali. Lagi-lagi harus mengalami kedongkolan. Setelah dua jam menunggu, coba saya hubungi lagi, eh jawabannya ia minta dibatalkan saja pertemuan kami, karena tidak bisa lepas pembicaraannya dengan koleganya itu. Ia membatalkan setelah dua jam saya menunggu. Saya memang tidak marah dan tidak memusuhinya, namun ia sudah masuk dalam daftar, kalau kawan saya itu bukan orang yang saya percaya untuk seumur hidup. Ingat, seumur hidup tidak akan berurusan soal uang dengannya, tidak akan percaya dengan ucapannya, kecuali ada kesungguhan untuk berubah.

Kejadian-kejadian ini membuat saya harus belajar konsisten dengan ucapan, khususnya soal waktu menepati janji. Karena sudah sering merasa didzolimi, maka saya berusaha untuk tidak mendzolimi orang lain dengan berusaha menepati janji soal waktu. Sayangnya ketidakadilan dunia harus mengajarkan kesabaran, ingin berusaha tidak mendzolimi malah jadi korban pendzoliman.

Kejadian cerita di atas bukan hanya terjadi sekali dua kali. Itu terus terjadi berulang-ulang sejak awal kuliah di Yogyakarta. Kebiasaan ini memang ada hikmahnya, saya jadi belajar untuk sabar. Sayang, kadang sabar juga memiliki batas. Beberapa kali saya harus marah-marah karena kecewa. Sampai, saya pun pernah harus membentak dan memecat seorang kawan saat organisasi kampus karena kawan saya tersebut sudah berkali-kali tidak konsisten dengan waktunya (bahkan pekerjaannya).

Lagi-lagi, kebanyakan kawan-kawan saya yang suka kurang konsisten dengan ucapannya soal waktu adalah orang-orang yang terlibat dalam aktivitas dakwah. Itu pun termasuk guru ngaji saya sendiri (banyak yang menyebut ‘Murobbi’). Berkali-kali saya harus kecewa dengannya soal komitmen menepati waktu. Sering waktu saya terbuang ketika menunggunya saat berjanji bertemu, atau menunggu beliau hadir dalam halaqoh. Padahal sudah sering diingatkan dan beliau pun sudah mencoba komitmen, ternyata masih saja terus terulang kesalahannya.  Saya pun beritikad untuk mulai tidak mempercayainnya lagi dalam urusan ucapan janji ini.

Soal waktu, saya memang berusaha perfeksionis. Ketika berjanji soal waktu, saya lebih suka menyebutkan waktu secara jelas dan menghindari penyebutan waktu dalam ruang ketidakpastian. Contohnya, Ketika ingin berjanji bertemu, saya akan lebih suka menyebutkan waktu 19.15 dari pada menyebutkan ba’da Isya.

Ketika ingin menentukan waktu berjanji juga harus dengan perhitungan. Misalnya, saya diminta bertemu oleh kawan adek-adek mahasiswa di kampus. Mereka minta sore. Biasanya saya akan menentukan jadwal bisa bertemu pukul 17.00 atau 16.45. Jam keluar kantor saya pukul 16.00. Waktu berjanji dengan keluar kantor saya hitung sesuai perhitungan perjalanan. Jarak waktu kantor dan kampus sekitar 20 menit untuk waktu pagi, dan 30-40 menit untuk waktu sore (biasanya sore lebih macet dari pada pagi). Dari situ, saya berusaha agar hadir sesuai dengan waktu yang saya ucapkan sendiri.

Bukan artinya saya tidak penah gak telat. Saya pun juga pernah telat. Baik disengaja, keteledoran, maupun memang karena harus telat. Meski juga pernah telat karena keteledoran, pastinya saya harus menyesal dan berusaha untuk tidak mengulanginya. Ketika terpaksa harus telat saya akan mengatakan sejak awal ketika berjanji. Misal dalam acara diskusi atau rapat akan dimulai pukul 13.00. Pada waktu yang sudah ditentukan , saya kesulitan untuk hadir. Sebab, saat jam 12.00 saya berada di suatu tempat yang jauh atau ada aktivitas yang tidak bisa ditinggal. Maka saya akan meminta izin untuk bisa hadir kira-kira pukul 13.15 atau 13.30. Hal itu untuk mengantisipasi kesalahan saya saat berjanji soal waktu.

Nah, cara yang terakhir itu saya akan lebih mudah memaafkan jika ada kawan-kawan saya yang ingin hadir dalam forum namun kemungkinan akan telat, dari pada menyatakan bisa hadir di waktu yang saya minta lalu terlambat. Ini bukan soal masalah kedisiplinan saja, atau faktor untung rugi, tapi soal konsisten dengan yang diucapkan. Saya akan menilai seseorang harus dipercaya atau tidak dari bagaimana ia konsisten dengan ucapannya dalam berjanji. Makanya, hati-hati dengan saya soal waktu!

Selengkapnya...