Rajin Update Status Facebook Bukan Teman yang Baik (Bagi Saya)

Posted: | oleh Ridwan Hidayat | Label: , 0 komentar
ilustrasi : www.cosarosta.com
Setelah melalui proses pengamatan yang panjang, muncul kesimpulan bahwa orang yang rajin update status facebook memiliki kecenderungan karakter yang tidak menyenangkan dalam pertemanan. Lebih tepatnya pertemanan untuk pekerjaan yang membutuhkan kerja-kerja keras, pengorbanan besar dan partisipasi aktif dengan tingkat stres yang tinggi.

Mengapa saya bisa mengatakan seperti itu? Sebab, berdasarkan pengamatan empiris dengan beberapa subyek (sample) selama menggunakan facebook, setiap kawan saya yang sangat rajin update biasanya memiliki kecendrungan perilaku seperti ini  :
  1. Kurang peduli dan perhatian ketika berjanji masalah waktu (entah ketemu atau dedline kerjaan),
  2. Etos kerja (atau bisa dimaksud produktifitas) yang tergantung mood. Etos kerja bisa bagus ketika hanya berdasarkan motivasi yang menyenangkan atau menguntungkan dirinya (lebih tepatnya untuk eksistensi), bukan motivasi atas kesadaran kolektif karena kebutuhan dari sebuah hubungan sosial.
  3. Merasa lebih tau.
  4. Manja. Sebenarnya ini juga berkaitan dengan etos kerja, dalam hal ini tidak mau susah.
  5. Ingin didengar (diperhatikan). Kalau pada pria cendrung suka tebar pesona.
  6. Mudah tersinggung, lemah mental. Atau semacam sulit menerima hinaan dan kritikan.
  7. Mudah ngambek, atau mutungan. Perilaku ngambek biasa lebih ke perilaku perempuan, tetapi jangan salah, laki-laki juga bisa.
  8. Tidak bersikap seperti yang dikatakan, dengan kata lain banyak bicara, banyak berikan arahan, usulan-usulan, atau komentar (sok kritis) yang mana cendrung tidak bisa melakukan apa yang dikatakannya.
  9. Suka berpandangan (pendapat) berdasarkan asumsi yang sifatnya emosional (seperti praduga), bukan logika (asumsi empiris). Biasanya cendrung jadi penggosip.
  10. Kadang, juga soal keamanan rahasia pribadi antar teman. Maksudnya sulit dipercaya menjaga rahasia.
  11. Kurang menghargai adanya kekurangan atau lebih tepatnya perfeksionis. Ketika ia mendapatkan sesuatu yang tidak ideal atau tidak mendapat yang diharapkan, baik dalam sebuah hubungan atau kondisi lingkungan, dipastikan akan ada konflik atau resistensi (ada hubungannya dengan sikap no 7), bahkan bisa sampai pada tingkat putus asa akut. Banyaknya kasus bunuh diri biasanya karena sikap ini yang begitu dominan dalam dirinya.
  12. Bisa juga sampai kepada sifat rajin membicarakan orang lain. Entah keburukan, pengalaman lelucouan, canda yang berlebihan, dsb.
Sifat ini bisa dimiliki secara keseluruhan atau salah satunya saja. Namun berdasarkan pengamatan tersebut, perilaku pada no 5, 6, 7, 8 dan 11 menjadi perilaku yang dominan (pasti dimiliki) oleh orang yang rajin update status.

Jika Anda berkomentar, “Ah tidak juga. Buktinya saya sering update status tidak seperti itu.” Jika komentar ini yang terlontar, maka saya hanya bisa diam. Karena itu hanya berdasarkan penilaian Anda terhadap diri sendiri, bukan orang lain.

Tetapi jika saya mendapat komentar, “Ah tidak juga. Buktinya ada teman saya yang rajin update tidak begitu.” Nah, kalau jawaban seperti ini saya akan bertanya, “Sejauh mana Anda dekat dengan teman Anda? Sudahkah pernah bekerja bareng dengannya? Pekerjaan yang butuh pengorbanan pastinya. Atau pernahkah Anda serumah dengannya lebih dari sebulan?” Jika itu pernah Anda lakukan dan alami maka Anda bisa menilai teman Anda. Jadi, penilaian saya terhadap tesis di atas adalah teman-teman yang benar-benar dekat. Jika pun tidak dekat, minimal saya pernah berhubungan kerja atau uang. Bisa jadi itu Anda (yang membaca ini).

Penilaian itu juga saya amati dari sebuah hubungan lawan jenis (pacaran) dari beberapa teman dan saudara. Saya memperhatikan pihak perempuan yang rajin update status bahkan sering tampilkan foto narsisnya, memiliki kecendrungan manja dan selalu ingin diperhatikan pacarnya. Jika keinginannya (rasa ingin diperhatikan entah apapun bentuknya) tidak dituruti, pasti ngambek. Untungnya si laki-laki -yang katanya lagi cinta banget- mau menuruti kemauan sang perempuan (biasanya ini kelemahan laki-laki). Nanti kalau sudah bosan (rasa cinta itu hilang), berantemlah mereka yang ujung-ujungnya putus. ( Jadi, kalau ingin merusak sebuah hubungan, kenali dulu kebiasaan mereka, lalu temukan motivasinya, cari  kelemahannya dari motivasi yang dimiliki, kemudian ciptakanlah konflik berdasarkan kelemahan tersebut. -Sedikit resep politik adu domba #selingan)

Penilaian itu bukan hanya kepada kawan (yang dijadikan sample) saya saja, tetapi juga pada diri saya sendiri. Harus diakui saya pun memiliki sikap-sikap buruk yang saya sebutkan di atas. Penilaian pribadi itu bukan sekedar muncul dari asumsi, tetapi memang hasil dari sikap orang lain kepada saya yang tidak suka karena sifat-sifat saya tersebut, baik dari gelagat dan cara bersikap, perkataan orang ketiga atau mereka yang secara langsung mengatakan itu kepada saya. Dan iya, saya benarkan (setelah evaluasi).

Kemudian saya dapatkan juga kalau saya termasuk orang yang selalu ingin menyampaikan apa yang ada dipikiran dan perasaan ke kolom yang disebut wall facebook. Lagi-lagi, ada sebuah curahan dan eksistensi yang ingin saya tunjukan. Nah, perilaku ini saya hubungkan dengan karakter buruk yang saya temukan tadi. Metode terakhir inilah yang juga menjadi sumber data tesis saya ke dua.

Jadi ada 2 metode untuk menyimpulkan tesis saya di atas, pertama berdasarkan kecendrungan-kecendrungan dari pengamatan dan pengalaman dari bebrapa subyek (sample) yang diamati. Kedua, dari apa yang saya lakukan pada diri saya sendiri. Berdasarkan temuan-temuan perilaku dari beberapa poin di atas saya simpulkan, bahwa orang-orang yang rajin update status memiliki kecendrungan bukan kawan yang baik. Lebih tepatnya bukan kawan yang baik untuk bekerja bersama, yaitu pekerjaan yang membutuhkan pengorbanan besar dan partisipasi yang aktif dengan tingkat stres yang tinggi. Jika pun ada secara kerja dia sangat berkorban dan partisipasi yang aktif, biasanya lebih kepada motivasi untuk eksistensi, bukan karena kesadaran kolektif. Atau mungkin juga karena kepepet dan terpaksa.

Contoh mudahnya, orang-orang seperti ini ketika kita ajak perjalanan menempuh rimba hutan dengan perbekalan makanan dan air yang minim, kemungkinan dia akan banyak protes (keluhan), ngomel-ngomel, dan tidak mau mengalah. Sikap ini akan muncul ketika sedang dalam kondisi yang melelahkan. Karena, pada saat kondisi lelah tingkat stress seseorang tidak stabil.

Berbeda dengan kawan yang jarang update status, biasanya mereka lebih enak dijadikan teman. Mereka mampu menerima kekurangan kita (dalam hal ini saya), dan tidak suka merendahkan.Untuk di ajak bekerja bareng pun jarang ada masalah. Mereka mampu mengelola stresnya. Juga, mereka ini jarang menunjukkan eksistensinya. Bahasa kerennya low profile.

Orang yang sering upadate status secara psikologis memiliki kesan adalah orang yang ingin selalu menujukkan eksistensi dirinya. Ia ingin semua orang tau apa yang sedang ia alami atau pikirkan. Nah, karakter inilah yang pastinya secara psikologi akan berkaitan dengan perilaku dan sikapnya di lingkungan sosialnya. Sayangnya, masih jarang di kampus-kampus di negeri ini melakukan peneilitian tentang efek perilaku dari budaya facebook. Saya meyakini, ada alam bawah sadar dari perilaku kita sehari-hari yang mempengaruhi kita dalam menggunakan facebook, atau perilaku kita saat menggunakan facebook dengan sikap sehari-hari di lingkungan sosial. Anak yang dimanja dalam didikan orang tuanya pasti akan berbeda perilakunya ketika menggunakan facebook dari pada anak yang dididik keras.

Metode yang saya lakukan untuk uji empiris tesis saya memang masih belum teruji kebenarannya secara ilmiah. Tingkat kesalahannya pun bisa jadi cukup tinggi, karena sifatnya yang berdasarkan asumsi empiris (logika) yang cukup subyektif dengan alat pengetahuan (psikologi) yang minim. Namun, ketika seorang yang rajin update status bisa disamakan dengan perilaku narsis, dipastikan bisa teruji secara ilmiah. Banyak penelitian yang menghubungkan perilaku narsis dengan perilaku buruk seseorang. Hampir-hampir perilaku buruk yang saya disebutkan di atas juga dimiliki oleh perilaku narsis. Tinggal menyamakan pandangan, apakah seringnya update status sama dengan perilaku narsis. Silakan search di Google tentang dampak perilaku narsis terhadap perilaku hubungan sosial dan pertemanan, banyak sekali.

**
Banyak metode untuk menilai seseorang. Cara menempatkan foto profil pun bisa menjelaskan gambaran seseorang pada suatu minat dan keinginan yang ingin ditunjukan (secara semiotik). Jadi, pengamatan kita pada perilaku mereka di dunia maya bisa menjadi metode kita untuk mengenal seseorang. Tinggal seberapa baik alat pengetahuan kita untuk menjadi acuan metodelogi risetnya. Semakin baik alat pengetahuan, maka  hasil tesis tersebut bisa semakin mendekati kebenaran.

Hasil tesis saya inilah yang bisa bermanfaat sebagai metode saya ketika suatu saat memerlukan partner kerja maupun partner hidup. Bukan berarti saya ingin berusaha perfeksionis memilih-milih kawan. Namun, hanya sebagai acuan untuk mengenal lebih dekat, sehingga tau harus memposisikan dia seperti apa.

Menjadi perfeksionis untuk memilih kawan sesuai harapan kita adalah tidak mungkin. Sebab, pasti setiap orang memiliki kekurangan. Menilai akhlak seseorang untuk mencapai kebenarannya itu sulit (karena subyektifitas tersebut), apalagi mencari akhlak ideal untuk menjadi partner hidup kita. Maka, kesiapan untuk menerima kekurangan adalah keharusan.

Dan pastinya, tesis ini menjadi bahan evalusasi bagi diri saya pribadi.

**
Tesis ini tidak berlaku untuk orang yang sering update di twitter. Sebab, berdasarkan pengamatan saya, sebagian besar pengguna twitter adalah orang-orang yang cukup intelek (melek informasi), hidup di kota-kota besar dengan mobilitas yang tinggi. Hal itu saya simpulkan dari banyaknya opini yang berkembang di media berawal dari twitter dari pada facebook. Propaganda politik lebih masif di twitter. Jadi, pengguna twitter dan facebook memiliki sifat dan karakter berbeda yang tidak bisa disamakan. Selain itu facebook adalah aplikasi database perilaku manusia terbesar di dunia, dari pada twitter yang masih terbatas dalam mengumpulkan informasi seseorang.

Bagi Anda yang merasa menjadi orang yang sering update status, silakan jika tidak setuju dengan pendapat saya ini. Apa yang saya tesiskan bukan sebuah hasil penelitian ilmiah yang mendekati kebenaran, jadi tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Jika tesis saya ini benar ya Alhamdulillah, jika salah ya sudah, silakan abaikan dan lupakan.

Bagi Anda yang jarang menulis status Facebook juga jangan bangga hati lepas dari karakter buruk yang disebutkan di atas. Bisa jadi, Anda juga memiliki karakter tersebut namun ketika sedang berhadapan dengan facebook Anda tidak tahu apa yang ingin dituliskan, mungkin bingung atau karena gaptek.

Wallahualam..


Catatan :
-         Bagi Anda yang sedang melakukan riset ilmiah tentang perilaku. Mohon untuk tidak menggunakan artiekl saya ini sebagai sumber refrensi.
-          Silakan bagi yang ingin memperdebatkan metode saya. Diladeni. Anggap saja ujian tesis.

Selengkapnya...

Menjadi Beradab dengan Kebersihan

Posted: | oleh Ridwan Hidayat | Label: 0 komentar
ilustrasi : image thread Kaskus
Membaca headline Koran Kompas hari ini (25/03/12) cukup menarik. Tema tentang kebersihan toilet umum menjadi topik yang di angkat dengan judul ‘Wangi di Depan, Jorok di Belakang’. Pemberitaan tentang perilaku masyarakat yang tidak peduli dengan kebersihan toilet menjadi berita menarik. Kesan manusia yang tidak beradab sangat terlihat di berbagai tempat toilet umum di ibu kota. Kesan ketidakberadaban itu terlihat dari tidak adanya kesadaran untuk membersihkan buangan hajatnya.

Sebagai contoh dari yang diberitakan, bahwa ada seorang wanita dari pejabat menengah pemerintahan (kalau tidak salah) di ceritakan oleh sang penjaga toilet pernah ditemukan tidak menyiramkan kotorannya setelah buang hajat di wc umum salah satu gedung pemerintahan. Setelah buang hajat ia keluar begitu saja. Cerita ini menggelitik saya. Sebab, kisah-kisah seperti ini memang bukan hal yang biasa. Ternyata ada (mungkin banyak) kaum kelas atas yang masih belum sadar apa itu kebersihan. Tampilan mereka cukup bersih dan rapi. Bawaannya mobil mewah. Tetapi perilakunya primitif.

Lepas dari koran tadi, saya sering memperhatikan banyaknya masyarakat yang berkendara mobil juga tidak mengerti apa itu kebersihan. Mobil yang terlihat memang cukup mahal. Saya pun tidak sanggup membelinya. Namun sayang, ketika di jalan raya mereka seenaknya membuka kaca mobil lalu menumpahkan kotoran apapun, entah makanan, plastik atau bekas minuman ke jalan yang mereka lewati. Jika saya punya kuasa, ingin rasanya memarahi mereka, menggedor pintu mobilnya dan menyuruh memungut kembali kotoran yang baru dibuang.

Di sini saya menyimpulkan, orang yang kaya belum tentu berpendidikan. Ataupun, mereka berpendidikan (berpengetahuan) namun belum tentu beradab. Sangat sesuai dengan makna judul headline Koran Kompas tadi, bagus di penampilan tetapi di dalam rusak.

Tidak suka menyiram air seni setalah buang hajat, menyiram kotorannya di wc umum, membuang sampah sembarangan, atau juga kencing di pinggir jalan, sudah menjadi pemandangan sehari-hari. Semakin modernnya fasilitas teknologi yang kita miliki tidak berbading lurus dengan sikap dan perilaku yang masih primitif. Hal inilah yang menjadi masalah besar masyarakat di negeri ini. Kesadaran untuk menjadi manusia beradap nampaknya menjadi bukti kegagalan pendidikan kita.

Ah, tidak usah jauh-jauh. Kampus FE UII (tempat saya kuliah dahulu) yang masih sering saya datangi juga tidak asing dengan pemandangan sampah berserakan. “Nanti juga dibersihkan sama cleaning servis.” Pengalaman saya pernah mendengar ucapan ini. Ia memang benar cleaning servis akan membersihkan. Tapi masalahnya bukan itu. Masalahnya adalah di pemandangannya. Ketika sampah dibiarkan saja di area meja-meja diskusi (kami biasa menyebutnya EC: English Corner), cleaning servis baru akan membersihkannya besok pagi. Sedangkan sampah tersebut pasti akan tetap ada dan merusak pemandangan. Dan yang pasti meja diskusi itu akan dipergunakan lagi oleh orang lain. Bukannya itu namanya mendzalimi. Padahal, di area tersebut banyak disediakan tong sampah. Namanya saja otak primitif, tong sampah diletakan sedekat apapun, tak akan pernah kepikiran itu sebagai tempat pembuangan. Lagi-lagi saya katakan, meski mahasiswa, katanya berpendidikan, gagal menjadi manusia beradab. Lagi-lagi ini soal kegagalan pendidikan.

Sejak kecil masalah pendidikan kebersihan masih kurang diperhatikan. Mengapa banyak orang suka kencing di pinggir jalan yang hanya berlindung di balik pohon, sebab, sejak kecil masih banyak juga orang tua menyuruh anaknya untuk kencing di jalanan ketika anak-anaknya ingin pipis. Seperti yang pernah saya perhatikan ketika saya di Bandara Juanda Surabaya. Seorang ibu dan anak yang baru keluar dari mobil di tempat penurunan penumpang, langsung menyuruh anaknya membuka celanan lalu kencing di parit dekat mobil itu berhenti. Padahal susana sedang ramai. Seperti itulah orang tua mengajarkan anak-anaknya; kencing sembarangan dan tidak dibersihkan bekas kencingnya. Apakah tidak pernah kepikiran untuk mengajak (dengan mengajarkan) anaknya ke WC umum terdekat?

Tidak heran jika Koran Kompas memberitakan jika masuk toilet umum seperti mengalami mimpi buruk. Dari akar masalahnya saja kita sudah tahu, bahwa sejak kecil masyarakat kita kurang mendapat pendidikan soal kebersihan, baik di sekolah maupun di keluarga. Teringat cerita Mas Fatan Fantastik, seorang penulis dari penerbit buku tempat saya bekerja, dalam sebuah diskusi bedah buku  bahwa di negri Singapura terdapat sekolah yang mengajarkan anak-anak untuk beradab sejak kecil. Mereka sudah di ajarkan bagaimana ketika kencing harus membasahi kamar mandi dahulu ketika dalam kondisi kering. Kemudian menyiraminya kembali ketika telah selesai. Itu salah satu contoh kecilnya dalam mengajarkan keberadaban. Belum lagi soal masalah sikap terhadap sampah dan perilaku-perilaku lainnya. Ketika ditanya, mengapa mereka mengajarkan seperti ini, justru mereka menjawab belajar dari Indonesia, yaitu dari ajaran Islam itu sendiri.

Memang dalam Islam kita mengenal dengan ajaran thaharoh (bersuci). Namun sayang, teori fikih yang sering di ajarkan di sekolah-sekolah soal thoharoh masih sebatas tata cara wudhu dan mandi wajib. Padahal, secara praktis thoharoh bisa masuk kelingkungan perilaku kepribadian, seperti yang di ajarkan sekolah di Singapur tadi. Lagi-lagi, kita gagal dalam pendidikan. Justru negara lain yang meniru kita lebih bisa mendidik manusia untuk beradab. Lalu, siapakah yang salah dalam hal ini? I don’t care, siapa yang salah, yang penting mari kita mulai dari diri kita untuk bersikap lebih beradab terhadap lingkungan.
Selengkapnya...

Dilema Pajak

Posted: | oleh Ridwan Hidayat | Label: 0 komentar
ilustrasi : newtechevolution.com
Terungkapnya kembali pelaku korupsi pegawai pajak terus menambah daftar hitam direktorat perpajakan negeri ini. Seolah tiada henti kasus yang menerpa para pegewai yang bernaung di bawah kementrian keuangan. Padahal kita tahu, bahwa direktorat pajak menjadi salah satu sumber pendapatan negara yang terbesar.

Beberapa minggu yang lalu, ramai memberitakan adanya keinginan pemerintah untuk membuat undang-undang perpajakan bagi UMKM. Keinginan pemerintah tersebut nampaknya menjadi kesadaran mereka bahwa jumlah UMKM di negeri ini cukup membantu perekonomian. Banyaknya jumlah tersebut menjadikan ekonomi dalam negeri mampu bertahan dari terpaan krisis global. Perputaran uang di UMKM membuktikan bahwa sektor riil menjadi panglima dalam terpaan krisis ini. Rencana untuk mempajaki UMKM inilah sebagai upaya pemerintah agar bertambahnya pemasukan kas negara dari sektor pajak.

Namun sayang, perdebatan itu muncul. Sebagian pihak keberatan adanya aturan ini. Selain menjadi kebijakan yang memberatkan bagi para pengusaha kecil, juga citra buruk dari para pengelola pajak tersebut. Banyak para pengusaha kecil menganggap, pemberlakukan pajak akan menambah beban ke mereka. Pajak menjadi kewajiban yang harus mengerogoti pendapatan, bahkan bisa membuat tidak adanya laba karena habis untuk membayar pajak.

Seperti yang pernah dilontarkan teman saya yang melanjutkan usaha dagang toko listrik Ayahnya, “Kalau kita turuti terus permintaan pertugas pajak, habislah kita.”

Pengalamannya, yang terus di tarik pajak bukan hanya berasal dari pendapatan usaha saja, namun untuk urusan properti seperti tempat usaha juga dipajaki, mau pasang reklame juga dipajaki. Mengurus perijinan juga dimintai uang. Jika semua hal itu dituruti, bukannya usaha dagang itu bisa berlangsung tetapi akan habis terus dimakan pajak.

Seperti pengalaman teman saya ini, pernah suatu ketika ia mendapat hadiah tirai dari merek produk listrik yang ia dagangkan. Tirai yg terdapat logo dan merek ia pasangkan saja di depan tokonya sebagai pelindung sinar matahari. Hingga pada saatnya, datang petugas pajak yang meminta pajak reklame karena menganggap tirai tersebut adalah reklame. Namun ketika sang petugas ditanya soal aturan ini, tidak bisa menjawab. Hanya ngotot bahwa tirai tersebut adalah reklame yang harus dibayarkan pajaknya. Teman saya pun juga ngotot bahwa ia tidak bermaksud untuk menayangkan reklame. Hanya memanfaatkan tirai pemberian produk listrik tersebut untuk menutupi tokoknya dari silaunya sinar matahari.

Kasus ini sebagai salah satu contoh bagaimana perilaku oknum petugas pajak tersebut. Banyak bentuk lainnya dari aksi oknum petugas pajak seolah seperti perampok yang memaksa korbannya untuk memberikan uang. Sebagai contoh lagi yang sering diungkap di media masa adalah perilaku oknum aparat pajak yang mengakal-akali para pengusaha agar diringankan kewajiban pajaknya dengan syarat mau menyogok aparat tersebut. Dalam hal ini, kasus Gayus menjadi contoh kasus besar yang terbukti.

Kasus yang paling menjengkelkan lagi adalah perilaku aparat yang masuk ke wilayah ancaman. Ini terjadi ke beberapa kerabat teman saya tadi yang kebanyakan pedagang. Keinginan untuk jujur membayar pajak dan tidak mau menyogok petugas harus menghadapi oknum petugas yang memaksa meminta ‘pajak persahabatan’. Jika kita tidak memenuhi permintaan ini, pasti akan dipersulit urusannya. Malah dapat dituduh sebagai pengusaha yang tidak mau membayarkan pajaknya.

Sampai-sampai beberapa kerabat teman saya itu mengatakan kepadanya bahwa kita sebagai pedagang harus berani melawan oknum-oknum aparat amoral tersebut. Pengetahuan akan ilmu hukum pun harus dimiliki agar tidak diakal-akali terus oleh mereka.

Di satu sisi, kita ingin menuruti niat baik pemerintah untuk membayar pajak demi membiayai infrastrukur dan pembangunan negara. Namun di sisi lain, para aparat negara justru mengambil kesempatan di lahan basah tersebut untuk kepentingan pribadinya.

Banyak sudah pengangguran di negri ini. Para penganggur-penganggur itu banyak yang berupaya mencari penghasilannya dari berwirausaha, namun sayangnya kebijakan pemerintah justru membuat aturan-aturan yang menyusahkan. Belum lagi perilaku oknum aparatnya. Bukannya membangun, justru semakin memiskinlah negeri ini.

Lalu, kita sebagai warga negara harus bagaimana? Keinginan untuk menjadi warganegara yang baik harus menghadapi pengkhianatan dari aparat negaranya sendiri.
Selengkapnya...

Belajar Kritis, Belajar untuk Mencari Jalan yang Lurus

Posted: | oleh Ridwan Hidayat | Label: 0 komentar
ilustrasi : www.csj.org
Bagi saya, sikap kritis itu perlu.Kita hidup di jaman dimana informasi begitu banyak masuk ke telinga kita. Puluhan ide, kabar, dan celotehan menjadi makanan sehari-hari. Semua begitu bebas masuk ke alam pikiran tanpa kita sadari. Sikap kritis, perlu menjadi sarana kita untuk menghidupkan mesin filter informasi (baik ide maupun pemikiran).

Anggap saja kita sedang berjalan ke suatu tepat yang ingin dituju. Jika bicara konteks jaman dulu, mungkin kita mudah mencari arah bila tidak tahu. Keterbatasan media informasi memudahkan menemukan satu dua orang untuk mengarahkan. Tinggal kita bertanya kepada orang yang menurut kita benar atau tidak, mudah di dapatkan.

Berbeda dengan konteks jaman sekarang. Menemukan satu orang yang benar saja susah. Proses perjalanan kita itu kadang membingungkan. Meski kita tidak meminta orang tersebut untuk mengarahi kita, mereka berteriak sendiri. Bahkan bisa ratusan orang berteriak tentang arah perjalanan yang akan kita tuju tanpa kita minta. Mereka berteriak dengan berbagai medium media yang ada di ruang-ruang publik. Mulai dari teriakan dogma normatif, hingga perkataan yang tidak bermutu. Sedangkan kita tidak tahu apakah yang diteriakan itu benar, bermanfaat, atau menyesatkan. Nah disinalah kita perlu menghidupkan mesin filter untuk mengetahui informasi yang benar (juga bermanfaat).

Sikap kritis perlu di mulai dengan sikap skeptis. Sikap skeptis menjadi sikap yang sudah mulai saya adopsi sejak lama. Saya selalu menganggap semua orang disekitar saya, termasuk keluarga, tidak bisa dipercaya. Kecuali telah membuktikan bahwa mereka adalah orang-orang yang bisa dipercaya, entah dengan perilakunya kepada saya atau usaha saya mengenali lebih jauh kepribadiannya.

Terlalu curiga juga tidak baik. Pasti akan membuat hidup tidak nyaman. Disitulah kadar skeptis perlu di manajemen. Harus ada nilai toleransinya. Sebab, setiap manusia pasti memiliki kekurangan dan karakter yang harus kita maklumi.

Skeptis ini lah yang menjadi sikap untuk menghidupkan mesin filter informasi (kritis). Sikap kritis adalah proses penyelidikan dari orang-orang sekitar yang telah memberikan informasi ke kita. Apakah informasi yang kita terima itu mengarahkan jalan yang benar atau sesat. Termasuk informasi (ide atau pemikiran) dari ustadz, ulama, mentor, hingga pemikiran dari sebuah gerakan agama (yang kita ikuti) yang merasuk ke pikiran kita. Sikap kritis adalah upaya untuk tidak menerima mentah-mentah (taklid), namun upaya untuk terus mencari apa itu kebenaran. Kebenaran mutlak hanya ada pada teks Al Qur'an dan sunnah Nabi saw.

Inilah yang saya sesalkan, adanya orang-orang yang sangat alergi dengan sikap kritis. Seolah-olah orang yang kritis itu adalah musuh, berniat menghancurkan, tetapi tidak pernah diliat sebagai karakter dan usaha mencari kebenaran.

Kritis juga tidak sembarang kritis. Yang lebih saya sesalkan, banyak juga orang yang (seolah-olah) bersikap kritis sebagai dalih penolakan kebenaran. Kritis yang digunakan hanya sarana menturuti hawa nafsu, atau kritis untuk membuktikan ia lebih pintar. Kritis seperti inilah yang bisa kita anggap sebagai kritis yang berniat menghancurkan.

Nah sekarang, setelah kita ada kemauan untuk bersikap kritis bagaimana untuk memilah informasi yang kita dapatkan dari orang-orang disekitar kita. Bagaimana menentukan standar kebenaran itu. Lagi-lagi, inilah pentingnya menuntut ilmu. Ilmu akan mengarahkan kita kepada jalan yang ingin dituju. Dalam hal ini, dasar ilmu berupa teks Alqur’an dan sunnah menjadi landasan normatifnya. Tinggal, orang-orang di sekeliling kita perlu dipilah mana yang dipercaya atau tidak sebagai pelengkap informasi perjalanan (hidup) kita.

Dalam konteks jaman sekarang, ilmu (teks) agama saja tidak cukup. Banyak juga orang-orang yang secara ibadah bagus, mengerti Islam (secara teks), juga terjebak di ruang informasi yang terdistorsi (baik yang sudah direkayasa). Seolah-olah yang dilakukan adalah benar (secara teks agama), padahal sesungguhnya sudah terperangkap ke arah jalan yang sesat. Itulah mengapa Islam mengajarkan agama secara Kaffah.

Menuntut ilmu jangan setengah-setengah. Belajar Islam jangan hanya dibatasi soal ibadah. Tetapi pengetahuan soal akidah dan akhlak harus masuk ke ruang ilmu dalam kacamata sosial, politik, ekonomi, kajian budaya dan komunikasi juga tak lupa ilmu alam. Kajian-kajian sosial dan budaya bisa membantu mengarahkan kita bahwa fenomena dan kemajuan sarana informasi saat ini bisa saja menjebak. Pengetahuan akan ilmu sosial, budaya serta wacana pemikiran dan semacamnya, menjadi bagian dari startegi memilah informasi sesat yang tidak tertulis dalam teks agama. Maka, perlunya banyak mengkaji dan membaca, serta membuka ruang wacana pemikiran. Orang yang berilmu cendrung kritis.

Itulah mengapa, Allah swt menyuruh kita membacanya berkali-kali Surat Al Fatihah dalam sholat, yaitu kalimat ; “Tunjukilah kami jalan yang lurus. Jalan orang-orang mukmin yang Engkau berikan nikmat, bukan jalan orang-orang sesat dan dzalim”. Inilah surat yang mengajak untuk terus berdoa agar selalu ditunjukkan jalan yang lurus serta ajakan untuk berpikir bagaimana caranya bisa menemukan jalan yang lurus itu, yaitu dengan belajar dan menuntut ilmu. Dan yang lebih penting adalah menjaga ibadah (khususnya sholat), karena ibadah adalah upaya menjaga sikap kritis kita dari hawa nafsu dan kepentingan. Wallahualam
Selengkapnya...

Melawan Jaringan Islam Liberal dengan #IndonesiaTanpaJIL

Posted: | oleh Ridwan Hidayat | Label: , 1 komentar
ilustrasi  ahmedfikreatif.wordpress.com
Gerakan #IndonesiaTanpaJIL terlihat cukup menarik. Gerakan yang bermula sebagai aksi counter dari #IndonesiaTanpaFPI mendapat sambutan yang cukup hangat di kalangan aktivis muslim. Fauzi Baadila, seorang artis (yang saya juga baru kenal saat ini), menjadi ikon setelah ia mempromosikan gerakan #IndonesiaTanpaJIL dengan videonya yang hanya berdurasi beberapa detik. Sontak gayung bersambut dikalangan aktivis yang anti JIL meramaikan suara twit mereka dengan hastag terebut.

Saya pun, sebagai mantan pegiat dakwah kampus yang sudah cukup mengenal sepak terjang orang-orang Islam Liberal menyambut dengan antusias gerakan ini melalui media sosial. Sebagai admin media sosial di penerbit buku islam tempat saya bekerja, akun twiter penerbit itu pun juga saya manfaatkan untuk meramaikan gerakan ini. Dengan harap, agar dapat membantu mengkampanyegan gerakan anti liberal yang sudah cukup meresahkan akidah umat Islam di Indonesia.

Namun, satu hal yang menjadi tanda tanya bagi saya, apakah gerakan media sosial ini bisa berpengaruh (untuk saat ini)? Banyak hal yang bagi saya, sulit membangun wacana anti JIL ini ke wilayah publik.

Pertama, keberadan JIL yang sangat dipelihara oleh pemerintah. Atau dalam hal ini, JIL sangat berpengaruh di dalam pemerintahan. Mereka selalu dijadikan alat propaganda pengaliahan isu ketika pemerintah sedang dalam posisi disudutkan. Juga, menjadi alat propaganda pemerintah dengan isu-isu yang bertemakan konflik sosial di masyarakat. Belum lagi orang-orang mereka yang terjun ke politik atau para politikus yang memiliki kesamaan berpikir dengan orang-orang liberal.

Kedua, keberadaan media-media nasional yang juga menjadi kaki tangan JIL. JIL memiliki jaringan yang cukup dekat dengan media. Terutama koran Kompas, koran ini hampir setiap saat memberikan ruang bagi aktivis JIL untuk beropini. Bahkan, ide-ide JIL diadopsi sebagai framing pemberitaan yang menyangkut masalah konflik antar umat beragama. Sama halnya dengan Tempo, media ini sudah menjadi tempat bersuaranya orang-orang JIL, hampir sebagian besar jurnalisnya adalah didikan mereka. Jadi, soal-kuat-kuatan pengaruh di opini publik, jelas kita sudah kalah. Makanya, gerakan #IndonesiaTanpaJIL tidak diangkat isunya pada media-media berita segmen umum. Berbeda dengan gerakan #IndonesiaTanpaFPI yang begitu menarik diangkat oleh media.

Ketiga, keberadaan mereka dengan modal yang kuat. Sudah banyak tulisan-tulisan yang membahas tentang berbagai institusi yang menjadi pemodal gerak para aktivis JIL. Kekuatan modal yang mereka miliki inilah yang membuat mereka cukup mudah membuat berbagai program yang bisa mempengaruhi opini publik dalam skala yang cukup besar. Salah satunya film. Sudah tidak asing kita mendengar film-film yang selalu jadi kontroversi, seperti “?”, Cin(T)a, Perepmpuan berkalung Surban, dsb.

Jelas, beberapa poin di atas, mereka sudah bergerak berdasarkan agenda, visi kerja dan sangat terorganisir. Cengkramannya mampu mempengaruhi ruang ide masyarakat. Berbeda dengan gerakan sosial media #IndonesaiTanpaJIL yang masih dalam tahap reaksi atas kehadiran mereka.

Bukan artinya pesimis atau mengecilkan semangat terhadap gerakan Anti JIL ini, namun berharap, gerakan ini menjadi kesadaran umat Islam agar dapat membendung pemikiran mereka. Bukan sekedar mengecam, namun melakukan perlawanan-perlawaan yang teragenda dan terorganisir. Seperti yang tertulis di visi #IndonesiaTanpaJIL pada fanspage Faceboknya, bahwa gerakan ini bukan sekedar gerakan dengan lari sprint, melainkan dengan lari maraton, sehingga jangan terlalu terburu-buru untuk mengankat opini #IndonesiaTanpaJIL menjadi besar.

Satu hal yang membuat saya cukup salut dengan mereka adalah, mereka cendrung diam dengan isu ini. Mungkin saja mereka sadar, ketika mereka harus menanggapi, bisa jadi akan memperbesar isu tersebut ke ranah publik. Dengan mendiamkan saja, lama-lama akan surut sendiri. Inilah kecerdasan yang belum dimiliki kaum muslim Indonesia. Mereka lebih fokus dengan agenda-agenda dakwah liberal. Menanggapi isu counter hanya membuang-buang energi agenda ke depan, dan cendrung bersifat reaktif. Maka pelajaran yang perlu diambil adalah sikap proaktif yang perlu dimiliki kaum muslim, yaitu memiliki gerakan dakwah yang teragenda dan fokus, tanpa harus selalu menanggapi serangan-serang opini kontroversi dari mereka. Sikap selalu menanggapi dari pada menciptakan opini lebih bersikap reaktif daripada proaktif.

Seperti yang saya katakan sebelumnya, gerakan #IndonesiaTanpaJIL akan sia-sia jika hanya sebatas lontaran-lontaran kejelakan mereka di ruang publik. Isu di sosial media ada masanya surut ketika muncul isu baru. Maka, kesia-siaan tersebut akan hilang jika gerakan #IndonesiaTanpaJIL mampu bergerak secara terorganisir dengan agenda jangka panjang tanpa melalui ruang media sosial saja. Gerakan tersebut bisa berupa aktivitas politik, ekonomi, sosial, budaya, dsb. Semoga saja, Gerakan #IndonesiatanpaJIL memberika kesadaran umat muslim Indonesia terhadap bayahanya sekte ini.
Selengkapnya...

Tuntutan Kesejahteraan

Posted: | oleh Ridwan Hidayat | Label: , 0 komentar
ilustrasi : www.onlineberita.com
Aksi protes buruh melawan kaum kapitalis sudah sering terjadi sejak awal abad 19. Upaya peningkatan laba sebesar-besarnya bagi kaum kapitalis, menyebabkan sering dilakukannya penekanan biaya produksi dan tenaga kerja. Ketimpangan sosial pun tejadi. Seperti yang diberitakan di Kompas 29/01/12, menyebutkan di salah satu pemberitaannya bahwa sistem kapitalisme di AS dan Eropa telah menyengsarakan 99 persen warga tertapi hanya memakmurkan segelintir atau hanya 1 persen warganya.

Aksi buruh yang terjadi di Bekasi Jum’at (27/01/12) lalu menyadarkan kita bahwa jaman masih menunjukkan adanya bentuk-bentuk perlawanan buruh terhadap kesejahteraan yang belum diperolehnya. Dari beberapa aksi buruh yang terjadi di beberapa daerah, nampaknya kasus di Bekasi kemarin menunjukkan adanya keberhasilan tuntunan mereka dalam menaikan Upah Minimum Kabupaten (UMK). Sayangnya, dibalik keberhasilan mereka, harus menanggung dampak kerugian yang luar biasa akibat aksi penutupan jalan tol Jakarta-Cikampek sehingga mobil-mobil dan kendaraan umum terhenti selama beberapa jam.

Berbagai aksi buruh yang terjadi menunjukan bahwa praktek kapitalisme sudah menjadi ruang aksi para pengusaha. Tantangan globalisasi yang menciptakan hukum rimba, siapa kuat dia menang, menuntut para pengusaha untuk melakukan peningkatan laba sebesar-besarnya. Eksploitasi sumber daya pun terjadi.

Bukan hanya para pengusaha, pemerintah pun melakukan upaya politik upah murah sebagai cara menarik investor asing agar berinvestasi di dalam negeri dengan alasan untuk menghidupkan perekonomian. Standar upah pun ditetapkan sebagai rujukan para pengusaha WNI dan asing  untuk menetapkan gaji karyawannya. Sayangnya yang sering terjadi adalah, standar upah tersebut selalu saja tidak pernah sesuai dengan kebutuhan ekonomi yang terus meningkat. Memang perekonomian hidup, negara mendapatkan pendapatannya, namun kesejahteraan sebagian besar masyarakat –khususnya buruh- dipertanyakan.

Kejadian di Bekasi Jum’at lalu harus menjadi kesadaran bagi para pengusaha bahwa kehadiran buruh sangat mempengaruhi masa depan usaha mereka. Lihat saja, aksi buruh kemarin membuat penuruan produktivitas kerja. Kerugian pun dialami oleh beberapa pengusaha di daerah tersebut. Ketika hal ini terus terjadi, bukan saja adanya tindakan anarki, melainkan keberlangsungan usaha akan tergganggu. Maka, perlu adanya sikap para pengusaha untuk mengatasi tuntutan kesejahteraan agar terjaganya produktivitas dan keberlangsungan usaha.

Pertama, perlunya sikap pelayanan terhadap karyawan. Ketika logika pelayanan yang memuaskan kepada konsumen dapat mempengaruhi keberlangsungan usaha, maka logika pelayan kepada karyawanya juga perlu dibentuk untuk keberlangsungan tersebut. Fasilitas jaminan sosial dan kesejateraan karyawan menjadi sebuah tuntutan yang mesti dipenuhi. Pelayanan yang baik seorang pengusaha kepada pekerjanya mempengaruhi tingkat loyalitas. Jika loyalitas terbentuk akan ada rasa kepemilikan bersama, sehingga akan terbentuk rasa tanggung jawab untuk membangun perusahaan secara bersama-sama.

Kedua, sikap memanusiakan manusia. Buruh juga manusia yang butuh kesejahteraan dalam menghidupi keluarga. Mereka perlu masa depan yang lebih baik. Pemberian penghargaan atas kinerja dan besarnya tanggung jawab juga menjadi bentuk memanusiakan manusia.

Kesadaran memanusiakan manusia dapat mempengaruhi bagaimana mereka bekerja. Sikap loyal pada atasan bisa membentuk produktivitas kerja. Ketika produktivitas baik, tidak dipungkiri, kinerja usaha pun juga semakin baik. Sikap memanusiakan manusia menjadi tolok ukur dimana tanggung  jawab perusahaan menghargai karyawannya.

Sikap memanusiakan manusia juga bisa dalam bentuk sistem pengupahan berdasarkan omset. Dalam hal ini, perlu adanya sistem bonus berdasarkan tingkat pendapatan perusahaan. Maksudnya, peningkatan keuntungan/pendapatan perusahaan perlu diikuti dengan peningkatan upah karyawan. Bisa dalam bentuk bonus atau upah tidak tetap berdasarkan omset. Sistem ini bisa menjawab bentuk ketidakadilan sistem kapitalisme. Pada sistem kapitalis, semakin tinggi pendapatan pemodal tidak diikuti dengan pendapatan pekerjanya. Pengusaha semakin kaya, sedangkan karyawan semakin melarat. Inilah yang disebut ketimpangan sosial. Diharapkan sistem  pengupahan berdasarkan omset dapat mengurangi bentuk ketimpangan tersebut.

Perusahan juga perlu terbuka terhadap pendapatannya. Sistem perhitungan pun perlu di edukasi kepada karyawan. Sehingga, kerja keras karyawan tidak sia-sia. Semakin keras ia berusaha memenuhi target, semakin meningkat pula pendapatannya. Karyawan pun tidak perlu memikirkan lagi mencari usaha sampingan yang justru dapat mengganggu waktunya untuk keluarga di rumah atapun waktu istirahatnya.

Ketika kedua sikap tersebut ingin dijalankan, maka para pengusaha memang perlu mengorbankan pendapatan usahanya untuk karyawan. Dalam berwirausaha, bukan sekedar menadaptakn keuntungan yang besar untuk saat ini, melainkan bagaimana keberlangsungan usahanya ke depan. Menjaga kesejahteraan karyawan tidak harus atas desakan dan tuntutan, tapi mesti menjadi sebuah kesadaran para pengusaha. Baik kesadaran memanusiakan manusia maupun kesadaran keberlangsungan usaha ke depan.

Memang sudah banyak perusahaan yang melakuan hal seperti di atas, khususnya bisa dilihat dari perusahaan dalam bentuk BUMN, atau beberapa perusahan  swasta yang sudah cukup besar. Hal ini bisa dicontoh oleh perusahaan-perusahaan kelas kecil, menengah, atau beberapa perusahaan besar yang masih menindas karyawannya agar sadar betapa berharganya karyawan untuk masa depan perusahaan. Sebab, perusahaan yang telah mensejahtrakan karyawannya terbukti melahirkan karyawan yang loyal, produktif, dan rasa memiliki perusahaan yang cukup tinggi.

Semoga ini menjadi pelajaran baik bagi pemerintah, pengusaha, maupun kita sendiri yang berencana memiliki usaha pribadi kedepannya.
Selengkapnya...

Anak UII Dibohongi Judul Berita Soal PTS Terbaik

Posted: | oleh Ridwan Hidayat | Label: , 0 komentar
ilustrasi pinjam dari : krishnabalagita.wordpress.com
Setelah melewati beberapa minggu di tahun 2012, akhirnya bisa menyempatkan kembali menulis di blog. Terlalu fokus pada pekerjaan, baik di kantor maupun proyek pribadi di rumah, membuat tidak begitu perhatiannya pada informasi berita yang sedang ramai akhir-akhir ini. Anggap saja, saya suka telat informasi. –sedikit paragraf pembuka yang tidak penting.

Pemberitahuan kawan kantor tentang berita kampus saya yang mendapat sorotan sebagai PTS terbaik membuat sedikit kaget (keheranan). Untung saja, kawan saya itu menjelaskan secara spesifik tentang parameter ‘terbaik’. Jadi, rasa bangga (dengan heran) itu tak sempat diumbarkan.

Saya mencoba mencari berita tersebut. Ternyata benar, beberapa portal online nasional memberitakan tentang kampus UII berada di peringkat atas universitas swasta terbaik di Yogyakarta. Cukup tegas judul berita itu tertuliskan : UII PTS Terbaik di Yogyakarta, atau ada juga dengan judul : UII PTS Terbaik Pertama di DIY dan Kedua di Indonesia. Membaca sekilas saja akan ada rasa kebanggaan. Banyak kawan-kawan UII baik alumni maupun masih kuliah me-share beritanya di facebook mereka masing-masing. Nampaknya, rasa banga itu tersirat di raut mereka. Sayang,  jarang saya temukan tanggapan kritis dari berita yang beredar, kecuali hanya beberapa kawan (yang itu-itu saja).

Bukan hanya judul, penjelasan singkat di awal-awal paragraf pembuka saja sudah terasa ‘tidak jujur’. Ketidak jujuran dari salah satu portal online nasional itu terlihat dari kalimat : “Prestasi tersebut merujuk pernyataan 4 International College and University (4ICU), yaitu lembaga pemeringkat perguruan tinggi di dunia”. Kalimat yang mengesankan 4ICU sebagai lembaga penilaian universitas dari berbagai sisi seperti akademik, pelayanan, dsb. Baru di akhir paragraf akan dijelaskan bagaimana 4ICU menilai peringkat tersebut. Benar apa yang dikatakan kawan saya terhadap penilaian ‘terbaik’. Membaca di bagian akhir paragaf berita ini membuat senyuman sumringah sinis saya menebar (mempesona jika melihatnya, hahaha..).

Bagi orang awam, pasti tidak akan mengerti apa itu istilah google page rank, majestic SEO, Alexa traffic, dsb. Di Akhir paragraf berita itu sedikit menjelaskan maksudnya : ‘Google page rank adalah perhitungan backlink dari web lain berbentuk algoritma rangking. Majestic yaitu jumlah tautan eksternal web dan alexa traffic rank merupakan penilaian berdasarkan jumlah kunjungan web sedunia’. Nah, di sini jika melihat secara keseluruhan memang terkesan tidak ada yang bohong. Sebab, penjelasan bagaimana penilaian 4ICU dijelaskan di akhirnya.

Bagi yang paham internet atau istilah page rank tidak masalah, namun bagi yang gagap internet (hanya ngerti facebook dan twitter) bisa jadi masalah. Mereka akan memahaminya tidak secara utuh pada konteksnya. Seandainya saja paragraf tersebut menjelaskan bahwa 4ICU adalah lembaga pemeringkat ‘website’ perguruan tinggi di dunia, ini baru jujur. Akan lebih baik jika judul beritanya lebih terperinci, seperti : Website UII Mendapat Peringkat Terbaik di PTS se Yogyakarta.

Jadi, dengan jelas di sampaikan di website 4icu.org bahwa tujuan dari 4ICU hanya memberikan peringkat perguruan tinggi berdasarkan website yang dimiliki kampus tersebut. 4ICU menilai berdasarkan kepopulerannya baik dari Google Page Rank maupun Alexa Rank.
The aim of this website is to provide an approximate popularity ranking of world Universities and Colleges based upon the popularity of their websites. This is intended to help international students and academic staff to understand how popular a specific University/College is in a foreign country.

Di situs 4icu.org juga tertulis dengan jelas, bahwa mereka tidak mengklaim memberikan peringkat berdasarkan akdemis dan kualitas pendidikan. Dengan jujur mereka mengakui bahwa hasil penilaian 4ICU tidak harus diadopsi sebagai kriteria utama memilih universitas.
We do not claim - by any means - to rank organisations or their programs, by the quality of education or level of services provided. The 4icu.org University Web Ranking is not an academic ranking and should not be adopted as the main criteria for selecting an higher education organization where to study.
Lebih lengkap tentang 4ICU silahkan ke link ini : http://www.4icu.org/menu/about.htm

Pada berita lainnya bentuk kebohongan itu muncul dari ucapan Rektornya sendiri. Berita itu menuliskan seperti ini :
“Bagi UII, capaian ini merupakan hasil yang menggembirakan karena membuktikan konsistensi UII sebagai perguruan tinggi swasta terbaik di Yogyakarta, mengingat beberapa pertanyaan yang muncul akhir-akhir ini tentang kualitas UII yang seolah dianggap menurun sehingga tidak lagi menjadi PTS favorit di Yogyakarta,” ungkap Rektor. 
Silahkan lihat di sini : http://www.uii.ac.id/content/view/1736/15045/

Sang rektor juga tidak menjelaskan capaian terbaik itu dalam hal apa. Hanya mengatakan sebagai perguruan swasta terbaik. Lagi-lagi ditemukan kalimat kebohongan dari tiap pargarf yang ditemukan. Belum ada lembaga yang mengatakan kalau UII sebagai kampus terbaik. Sisi akademiknya saja, termasuk lulusannya, masih jauh dari kualitas yang diharapkan.

Sehingga saya menyimpulkan kata ‘Terbaik’ disini bukan karena kerja akademik, melainkan kehebatan webmasternya kampus tersebut untuk membuat website universitas bisa mendapatkan peringkat terbaik versi 4ICU. Inilah yang saya sebut kebohongan. Tidak ada kesingkronan antara judul dengan FAKTA yang sebenarnya.

Berbeda yang diberitakan tentang kampus ITB. Kampus yang berada di Kota Bandung itu menurut 4ICU menempati peringkat pertama di Indonesia. Pemberitaan tentang ITB justru lebih jujur. Judul beritanya masih menggunakan kata website. Contohnya : ITB Peringkat 1 Website Terbaik. Bisa di lihat di link ini : http://kampus.okezone.com/read/2012/01/11/373/555103/itb-peringkat-i-website-terbaik  atau ini juga : http://jabar.tribunnews.com/read/artikel/127539/ITB-dan-UPI-10-Besar-Website-Terbaik .

Ini hanya masalah sepele. Hanya masalah kata dari definisi terbaik itu. Satu kata yang telah menyesatkan semua orang. Kampus yang prestasinya sudah tingkat dunia saja masih jujur, sedangkan UII tidak? Bukankah ini memalukan?

Pertanyaannya, mengapa portal-portal online menuliskannya seperti itu. Etika jurnalistik yang lebih jujur dan jelas dalam pemberitaan seperti diabaikan. Apakah ini hanya disengaja untuk tujuan uang (menaikan trafik demi iklan)? Atau memang dibayar oleh pihak kampus sebagai tujuan pencitraannya UII? #HanyaCuriga. Setidaknya, permainan kata ini cukup menguntungkan bagi pencitraan UII.  Wallahualam.



Yogyakarta, 21 Januari 2012
Di Kantor Jogokariyan (Sambil melupakan pekerjaan yang membosankan)
Selengkapnya...

Teguran Allah Kepada Rasulullah Hanya Karena Tidak Mengatakan Insya Allah

Posted: | oleh Ridwan Hidayat | Label: 0 komentar
Meski seorang Nabi, Rasululah saw pernah mengalami kegalauan yang luar biasa. Syiar Islamnya hampir kandas hanya gara-gara tidak menepati janji. Rasululullah saw harus mendapat cacian kaum Quraisy yang hampir merusak jiwanya. Gelar pendusta yang didapat sangat mempengaruhi kredibilitasnya sebagai penyeru tauhid. Sampai-sampai Allah mengatakan dalam ayatnya, bahwa Nabi saw nyaris ingin mati bunuh diri. Ujian itu ia dapat hanya karena lupa mengucapkan kata Insya Allah atas janjinya kepada orang lain.

Janji apa yang membuat Rasul harus mengalami kegalauan, begini ceritanya.

Semakin lama orang quraisy semakin resah dengan dakwah Rasulullah. An-Nadhr ibn Harist dan Uqbah bib Abi Mu’aith di utus oleh orang Quraisy untuk pergi ke Yastrib. Mereka ditugaskan untuk berkonsultasi dengan Rabbi Yahudi dalam menghadapi Rasulullah. Dalam sejarah kenabian, kehadiran ke dua orang tersebut ke Yastrib menjadi pembawa berita pertama adanya nabi di Makkah.

Setelah di Yastrib, mereka bertemu dengan Rabbi yahudi dan bertanya, “Bagaimana kami bisa membuktikan bahwa ia benar-benar Nabi ataukah ia seorang pendusta?” Rabbi yahudi itu mengatakan kepada mereka, “tanyakan kepada orang yang mengaku nabi itu tiga hal, yang kalau ia mampu menjawabnya dengan sempurna, maka ia adalah benar-benar nabi. Tetapi kalau ia tidak bisa menjawab, maka pastilah ia pendusta, dan lakukan apa yang kalian mau terhadap seorang pendusta.”

Pertanyaannya, “Pertama, tanyakan tentang beberapa orang pemuda di awal abad ini yang memiliki kisah menarik. Kedua, tanyakan tentang seorang raja yang mengembara dari barat ke timur. Ketiga, tanyakan kepadanyatentang persoalan ruh. Jika bisa menjawab perntanyaan ini maka ia adalah seorang nabi.”

Lalu pulanglah ke dua utusan, dengan segera bertemu Nabi saw untuk mempertanyakan ketiga pertanyaa dari Rabbi yahudi.

Ketika ditanyakan, Rasulullah  mengatakan akan menjawabnya besok pagi dengan yakin. Lalu besok ditanyakan lagi ke Rasulullah, dan kembali mengatakan akan menjawabnya besok. Hingga beberapa hari berikutnya Rasul masih mengatakannya, besok akan di jawab.

Saat itu, kaum Quraisy sudah mulai tidak percaya dengan Nabi saw. Beliau dianggap sebagai pendusta karena tidak menepati janji untuk menjawab pertanyaan dari rabbi Yahudi itu.

Rasul saw bingung, sebab Jibril belum datang untuk membawakan wahyu dari jawaban ketiga pertanyaan. Tagihan ketiga pertanyaan selalu di jawab berulang-ulang oleh Nabi saw ‘besok pagi akan saya jawab’ . Beliau pun resah, putus asa dan galau, seakan-akan terputus komuniksi antara beliau dengan langit. Ia begitu berharap kehadiran Jibril untuk membawakan wahyu berupa jawabannya.

Akhirnya pada hari ke 15 Jibril datang dan turunlah Surat Al KAhfi ayat 23 dan 24.
23. Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: "Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi,
24. kecuali (dengan menyebut): "Insya Allah". Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: "Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini."

Seorang utusan Allah juga pernah mengalami masa yang sulit. Masa dimana Allah menegur karena kesalahannya. Keterlambatan wahyu tersebut harus membuat Rasul saw tersiksa dari cercaan dan makian kaumnya. Kredebilitas Muhammad sebagai nabi dipertaruhkan disitu.  Allah sengaja memperlambat wahyu tersebut untuk memberikan pelajaran kepada Nabi tentang satu kalimat penting, Insya Allah: jika Allah mengendaki.

Rasulullah saja dipersulit jika melakukan kesalahan, apalagi kita. Begitulah teguran dari Allah kepada Nabinya agar jika membuat janji wajib mengucapkan Insya Allah.

Jika berjanji dengan berniat tanpa menyertakan Allah maka siap-siap saja akan dipersulit oleh Allah, namun apabila berjanji dengan menyertakan Allah, Insya Allah, Allah akan mempermudah menepati janji kita. Wallahualam,


Catatan:
Turunya Surat di atas menjadi rangkaian ayat yang menjawab ketiga pertanyaa itu. Yaitu, cerita tentang ashabul kahfi, cerita tentang Zulkarnaen, dan tentang ruh.
Selengkapnya...